Antara Serpihan Dusta (Ada Kejujuran)

By Akbar Syuhada

Sejenak kumelihat kembali wajahku dengan cermin yang telah pecah berserakan di atas lantai kamarku. Terlihat kusut wajah asliku, kotor, kusam, dan penuh peluh yang membanjiri mukaku.

dustaAku sekejap terpana kemudian berlalu, dua puluh dua tahun sudah wajahku terukir dengan kepura-puraan, kesombongan, keangkuhan, kepengecutan, dan kebimbangan serta keputus asaan. Terlihat jelas ukiran itu setiap aku tertawa kemudian aku bertanya pada teman kecilku, “Sudah puaskah dirimu dengan keadaanku sekarang?” kamu terdiam dan hanya melirikku saja.

Kuambil satu cermin lagi yang masih berserakan, kulihat wajahku lagi dengan perlahan. Kamu tersenyum kemudian mendekatiku, ”Ku ingin dirimu yang seperti ini sayang,” rayumu dengan lirih.

Aku tertunduk penuh kesedihan dan bergumam dalam hati, ”Ternyata kau masih seperti yang dulu, sayang.” Dirimu masih mengharapkanku untuk tampil dengan wajah penuh gairah, optimis, keanggunan, wibawa, dan segala yang menyenangkan, agar kamu tidak malu saat berjalan denganku.

Dua puluh dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, tapi dirimu masih tidak dapat mengerti tentang diriku. Dua puluh dua tahun juga bukan waktu yang lama, namun dirimu semakin menggila saja tak bisa menghargaiku. Kamu lebih suka diriku yang rapi, wangi, sisiran, modis ketimbang aku yang gondrong, kutuan, jarang mandi, tatoan, yang sebenarnya itu adalah diriku yang sesungguhnya, tapi…tapi kamu memang tidak mau mengerti AKU !!!

Masih kupandangi diriku di cermin, sejenak ku mencoba untuk palingkan mukaku darimu, namun tanganmu terus menekan kepalaku untuk melihat wajahku tadi. Aku mulai muak dengan tingkahmu yang semakin tidak bisa menghargaiku, kemudian kubanting kedua cermin yang kupegang ke lantai keras-keras dan pecah berserakan berkeping-keping, kamu malah tersenyum puas dan tertawa sekeras-kerasnya melihat tingkahku. Kepalaku semakin pening, lalu kupegangi kepalaku dengan tanganku yang penuh pecahan cermin. Aku terkejut dan berteriak ”Pergi…!!!, Pergi…!!! dari hadapanku semua”.

Aku semakin terpana saat kumelihat cermin yang berserakan di lantai memunculkan wajah-wajahku yang penuh kebohongan, kebahagiaan, keputusasaan, gairah, keangkuhan, dan keanggunan bergantian seolah-olah mempermainkanku.

Kepalaku semakin sakit saat kulihat tanganku yang penuh butiran cermin yang pecah bagai debu itu terus menampakkan wajah-wajah palsuku, dan membuatku semakin benci, muak seakan ingin kumuntahkan semua hal yang berisikan kenangan denganmu. Matamu berbinar-binar saat melihat kelakuanku yang tak karuan dan brutal-binal ini. Ingin rasanya kulepas seluruh pakaian dan kemudian kumutilasi seluruh kulitku yang pernah kau sentuh.

Aku terus berteriak-teriak mengumpatmu yang semakin tidak tahu apa arti sebuah penghargaan, kucoba untuk berlari menjauh tapi kau masih saja mengikutiku dan terus menertawaiku. Sampai akhirnya ku berhenti di tepian jurang yang sangat dalam dan kujatuhkan tubuhku dengan muka yang menyusur ke bawah agar pecah tak berbentuk hingga kau tak mengenaliku. Namun masih saja kau mengikuti gerakku, sampai akhirnya kuterbangun dari tidurku dan kulihat wajahku dengan cermin yang telah pecah berserakan di atas lantai kamarku. Terlihat kusut wajah asliku, kotor, kusam, dan penuh peluh yang menetes membanjiri mukaku, seraya bergumam, ”Apakah ini kenyataan ataukah mimpi yang nyata?” tanyaku pada cermin yang pecah berserakan di lantai.

Dan aku masih mendapatimu berdiri dibelakangku seraya berkata, ”Ku ingin dirimu yang seperti ini sayang” sambil kau tunjukkan cermin yang menggambarkan wajah-wajah penuh gairah, optimis, keanggunan, wibawa dan segala yang menyenangkan.

Jogja, 16 Juni 2005
(Sumber: kompas.com)

About -dN5
Here I am........

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: