Perempuan itu…

By Maud Khan

Sudah dua bulan kutinggalkan rumah ini. Halamannya mulai kotor dipenuhi dedaunan. Lantainya berdebu.

perempuanMeski posisi setiap perabotan tak ada yang berubah— sebab kuyakin tak ada seorang pun yang memasuki rumah ini termasuk pencuri—namun tetap saja terlihat berbeda seakan telah bertahun-tahun tak ditempati. Terlalu lama tak dibersihkan karena tak ada yang merawat selama aku pergi. Tapi entahlah, waktu berjalan teramat cepat, mungkin akibat kesibukanku yang tak terbendung. Sementara itu, hingga sekarang aku masih mejadi seorang yang gila dengan pekerjaan. Dulu sebenarnya sempat ada keinginan untuk mencari pembantu, tapi entahlah, kurasa aku masih bisa menangani rumah ini sendiri.

Di depan rumah ada sebuah toko yang selalu buka tiap pagi higga larut malam. Toko itu tepat menghadap jalan. Intinya toko itu jelas menghadap rumahku. Seringkali aku duduk di pelataran rumah buat menyaksikan pemandangan luaran yang menurutku kacau tapi menyenangkan.

Tapi ternyata bukan kacau itu rupanya yang membuatku makin betah duduk-duduk di pelataran rumah tiap sore, melainkan seorang gadis penjaga toko yang kiranya tak perlu lagi kuceritakan tentang kecantikannya, saat itu.
Mukanya cerah, rambutnya lurus kemerah-merahan, dan ia tak pernah berpenampilan keterlaluan seperti yang sering dilakukan perempuan seumurnya. Jadi menurutku, dia begitu bersahaja.


Tapi aku bukanlah orang yang pandai mengajak orang buat bicara. Singkatnya, aku bukanlah pemberani buat masalah rayu-merayu atau semacamnya. Meski kadang kurasakan aroma pandangan matanya yang bertemu dengan mataku, tapi aku acuhkan pandangan itu seakan aku hanya tak sengaja memperhatikannya.

Tapi lama-lama aku bosan juga rupanya dengan tingakahku ini, sehingga suatu pagi aku beranikan datang buat membeli barang-barang keperluan kamar mandi. Ah, setidaknya sekadar basa basi. Dan itulah kali pertama aku membeli di tempat itu setelah kira-kira lima bulan aku pindah dari Jakarta.
”Sudah lama kerja di sini?” tanyaku seketika.
”Belum lama,” jawabnya perlahan. Kuperhatikan sekeliling, rupanya belum ada yang datang. Toko masih sepi. Sedang ia masih memandangi kalkulator sambil lalu menghitung-hitung belanjaanku.
”Kamu tinggal di mana?”
”Di situ,” sambil menunjuk ke sebuah gang di balik tikungan. ”tak jauh kok,” katanya pula.
”Hmm, kalau begitu terima kasih, aku masih ada urusan,” kataku, beranjak pergi. Sungguh bukan karena terburu-buru, tapi memang lantaran tak sanggup aku berlama-lama di sana. Seakan ada yang memaksaku untuk segera pulang. Dan hampir selalu itu saja yang terjadi. Selebihnya, aku lebih suka menyapanya saat berangkat kerja, atau saat aku datang dari pekerjaan di sore yang melelahkan. Ya, walau hanya sekadar mengulas senyum dan cukup mengatakan ”mari….” tapi memang begitulah. Ohh, sungguh menggelikan!

Sudah dua bulan rumah ini kutinggal. Tentu bukan waktu yang sebentar meninggalkan perempuan penjaga toko yang selama ini kusenangi. Di rumah Badrun, sepupuku yang ada di Malang, memang banyak perkerjaan yang harus diselesaikan. Sehingga tak aneh jika aku harus berlama-lama di kota dingin itu. Tapi bukan itu saja yang membuatnya makin lama.

Lima hari lalu sebelum aku beranjak pulang, Ade, temanku semasa kuliah yang kini tinggal di Solo ternyata sakitnya kambuh. Sudah tiga hari dia tak keluar dari rumah sakit. Jadi dengan sangat terpaksa kusempatkan sejenak menjenguknya walau dia minta ditemani lama-lama. Dan akhirnya aku harus mengalah juga. Dan jika boleh jujur, sebenarnya adik Ade yang berhasil membuatku berhari-hari betah di rumah sakit. Dan memang itulah pusat kelemahanku. Kelemahan yang seringkali dimiliki kebanyakan lelaki.
”Kalau boleh tau, sakit apa kakakmu?” tanyaku ketika itu.
”Aku juga gak tau kak. Sejak pulang kerja dari Surabaya tiba-tiba saja ia tak bangun-bangun dari kamarnya. Nampaknya ia sedang kena penyakit hati.”
”Maksudmu?”
”Biasa, penyakit laki-laki,” katanya sambil tersenyum-senyum ”tapi tak pa kok, bentar lagi juga sembuh. Mungkin dia hanya shock.”
Ternyata benar apa yang dikatakan Rini, ia betul-betul sedang terkena demam cinta. Gadis yang membuat Ade tak berdaya itu kuketahui namanya Astuti. Dia kuliah di Surabaya. Berdasarkan cerita Ade, aku bisa simpulkan bahwa dia adalah perempuan jahanam. Ade yang selama ini sudah setia telah ditinggal kawin seminggu lalu.
Yang membuatku begitu heran, Ade yang selama di Jakarta dikenal sebagai pemburu wanita paling gila rupanya takluk juga ia dibuat Astuti yang lebih gila lagi. Menurut sebagian orang itu karma. Tapi aku tak percaya. Bagiku ini hanya semacam permainan. Dan sebagaimana kebanyakan permainan, kita selalu menjumpai berbagai hal yang kebetulan.
”Sabar…” ujarku, ”orang ganteng sepertimu kan juga tak luput dari ujian?”
Ade hanya diam mendengar perkataanku. Ia masih meringkuk kedinginan yang sama sekali tak kurasakan di ruangan itu.
”Kau sudah punya pacar?” tiba-tiba Ade bertanya.
”Menurutmu?”
”Kau itu tak pantas punya pacar, Lim,” katanya lagi. Aku makin bingung. ”kau tak pantas punya pacar kecuali dia sayang sama kamu.”
”Ah, kau ada-ada saja, De.”
”Betul,” katanya lagi, ”kau itu tampan, baik, berpendidikan, tak pernah bermain perempuan pula.”
”Sudahlah, tak usah banyak memuji,” kataku.
Sejak saat itu aku merasa bahwa memang sudah selayaknya aku mampu menggandeng pasangan. Jangankan pasangan, memberi makan anak bini pun bagiku bukan masalah. Ha, tapi itu kan hanya lelucon saja buat menyenangkan hatiku. Tapi setidaknya membuatku semakin bersemangat.
Sudah dua bulan. Ya, dua bulan aku tak melihat perempuan penjaga toko langganan baruku itu. Perempuan yang membuatku tak perlu jauh-jauh berbelanja. Tapi pagi ini aku belum melihat mukanya barang sekelebat. Aku masih duduk-duduk di depan rumah. Menantikan perempuan penjaga toko yang biasa tersenyum dan menyapu halaman tiap pagi.
Sudah satu jam toko buka. Tap tak juga ia keluar. Barangkali ia sakit. Mungkin. Akhirnya kuberanikan bertanya kepada penjaga yang menurutku belum pernah kulihat sebelumnya.
”Penjaga yang biasanya nunggu di sini kemana mbak ya?”
”Siapa ya?”
”Yang biasa jadi kasir,” kataku lagi.
”Rani apa Tatik?”
Celaka, bahkan namanya pun aku tak tahu. Padahal hari ini aku baru hendak menanyakannya.
”Hmm, saya kurang tahu namanya,”
”Kalau Rani dia hendak kawin,” ungkapnya, ”tuh surat undangannya masih ada. Tapi kalau Tatik dia minggat,” katanya lagi.
”Minggat?” aku mulai heran ”kenapa?”
”Biasa, masalah dengan juragan.” katanya menambahkan, ”juragan di sini agak galak. Entah sudah berapa kali pelayan toko ini dibongkar pasang.” bisiknya.
”Mengapa begitu?”
”Dia tak suka sama pelayan yang suka macam-macam.”
Tiba-tba seorang perempuan paruh baya menghampiri kami. Dari sisi penampilan, aku pastikan dialah yang punya toko. Dan baru sekali ini aku melihatnya. Aku bingung harus memulai darimana pembicaraan ini.
”Ada apa, Ning?” tanya dia pada perempuan yang tadi kuajak bicara.
”Mas yang ini tadi menanyakan Tatik, bu.” katanya sambil menunjuk ke arahku.
”Mengapa dia minggat, Nyonya?” tanyaku memberanikan diri.
”Bukan minggat, tapi dia saya pecat.”
”Dia itu matanya suka melotot kalau ada pemuda-pemuda lewat.” katanya menjelaskan. ”kamu pacarnya?”
Aku terkejut, jangankan pacar, sedang mana Rani dan yang mana Tatik pun aku tak tahu.
”Bbb…bukan. Saya hanya sering lihat dia kerja di sini.” aku masih bingung, ”makanya saya heran waktu dia tak lagi saya lihat.”
”Hati-hati,” katanya pelan mengingatkan, ”kau bisa dijeratnya hanya dengan sekali pandang.”
”Begitukah?”
”Ya, dia itu tak bisa kerja profesional. Keterlaluan. Apalagi kalau malam pas toko ini mau tutup, pasti dia sudah ada yang jemput. Dan selalu saja gantian ’om-om’ yang dibawanya. Terus mau ditaruh di mana muka saya?” tandasnya, ”kalau aku punya anak macam dia, sudah aku bunuh. Amit-amit..”
”Siapa peduli,” pikirku.
Aku mulai tak menikmati pembicaraan. Tanpa banyak cakap aku langsung tinggalkan toko yang mulai sekarang tak kan pernah lagi kumasuki itu. Kurasa ini hanya sebatas sangkaan belaka. Bagaimana tidak?
Sepanjang hari jika aku tak kerja, aku kerap memperhatikan perempuan penjaga toko yang sekarang raib itu. Jika malam kuintip jendela. Dan menurutku tak pernah ada kejadian-kejadian aneh. Aku yakin betul jika gadis yang selama ini kuketahui adalah perempuan baik-baik. Apa yang kumaksud itu Rani? Tapi aku tak melihat cincin tunangan di jarinya.
Aku mulai ragu dengan yang diucapkan ibu pemilik toko itu. Kuambil motor, dan kucoba mencari-cari letak tinggalnya. Kususuri gang demi gang yang menganga setelah tikungan pertama di dekat jembatan. Tapi tak juga kutemukan. Aku heran, bagaimana bisa seorang perempuan lugu yang pernah kulihat ternyata membohongiku.
Kutatap jam tangan, jam duabelas siang. Sudah dua jam rupanya aku hilir mudik bagai orang yang tak tahu jalan. Saat aku mulai istirahat di pinggir jalan tepat disamping pos jaga satpam, tiba-tiba sebuah sedan warna silver berhenti tepat di depanku.
”Hai..” sapanya. Rupanya perempuan penjaga toko itu. Aku terkejut bukan main.
Seorang yang sudah agak tua dan duduk di sebelahnya membuatku lebih kaget lagi. Jelas, jikalau dia perempuan mengapa aku harus kaget dua kali?
”Ngapain di situ?” tanyanya lagi. Aku menjadi semakin tak bisa berkata apa-apa. Hilang sudah rencana besarku buat mencarinya. Toh tanpa diburu dia sudah muncul bersama bodyguard yang tak pernah aku duga.
”Biasa, cari angin,” jawabku sekenanya.
”Kemana saja lama gak lihat? kirain sudah pindah,” katanya.
”Baru dari luar kota, kamu darimana?”
”Baru saja pulang kuliah.”
”Kuliah?” pikirku. Bukankah dia sering jaga toko seharian?
”Tadi sempat mampir ke tokoku belum?” katanya basa basi, ”lumayan, banyak diskon lho sekarang?”
”Baru saja, aku malah ketemu sama yang punya toko.” kataku yang mulai bertanya-tanya dalam hati, ada hubungan apa dia dengan ’ibu toko’ tadi?
”Oo, jadi habis ketemu mama, gimana? Dia galak nggak? Haha, ayo mampir ke rumah. Tuh dia rumahku,” sambil menunjuk sebuah rumah berpagar putih.
Sialan, ternyata selama ini aku salah mengerti. Seorang penjaga toko yang sering kudapati menghitung belanjaan, rupanya dia putri dari seorang nomor satu di toko itu. Dan tanpa ditanya, aku sudah tahu bahwa pria yang di sampingnya itu adalah sopir pribadinya. Setidaknya sopir keluarga besarnya. Cakap betul dia.
”Gimana? Mau maen gak?”
”Oh, ya. Lain kali saja,” kataku. Percakapanpun berakhir sampai di situ.
Seketika berlalulah kedua orang itu memasuki pagar rumah berhalaman luas itu. Kuperhatikan seorang penjaga membukakan gerbang dan menutupnya kembali. Tapi yang masih membuatku gerah, betapa baiknya dia. Membantu menjaga toko seharian demi memenuhi pekerjaan ibunya. Ah, penilaianku ternyata tetap tak beranjak. Ia masih merupakan orang yang bersahaja di mataku.
***

Malam ini aku sudah menunggunya di taman tempat anak-anak bermain tiap sorenya. Malam ini sepi, tak ada orang berlalu-lalang. Mungkin malas, sebab udara memang cukup dingin. Kecuali dihabiskan buat menghangatkan badan, jarang sekali mereka akan keluar di malam-malam dingin menggigil macam ini.
Belum lima menit, kulihat ia datang dengan dandanan ala kadarnya. Meski begitu tak ada sedikitpun yang kurang pada penampilannya malam ini. Di bawah temaran cahaya lampu yang sedikit redup, kami banyak mengobrol tentang masa lalu, tentang kegemaran masing-masing, juga tentang… ya, keberadaan saat ini.
”Kemana saja dua bulan terakhir?” tanyanya setelah satu jam perbincangan berlalu.
”Menyelesaikan pekerjaan di Malang, terus mampir sebentar ke Solo menemui seorang kawan yang sakit.”
”Sakit?”
”Ya, sakit yang aneh,” jawabku sambil mengernyitkan dahi.
”Berapa lama?”
”Empat sampai lima hari.”
”Kau memang teman yang baik.” katanya memuji.
”Tidak juga,” kataku menyela, ”kau sendiri, ngapain selama dua bulan terakhir?” tanyaku, kulihat ia sedang asyik bermain-main dengan sedotan di mulutnya.
”Banyak,” jawabnya singkat. Kemudian kembali memainkan sedotan di mulutnya. ”Sebulan lalu, aku ketemu seorang yang begitu konyol di salah satu Boutiqe milik tante.”
”Konyol? Maksudnya?”
”Dia berani sekali menggodaku, bahkan sombong sekali dia hendak membeli semua dagangan milik tanteku yang mahal-mahal?”
”Ia sering kesana?”
”Ya, hampir seminggu sekali bahkan.”
”Terus kau biarkan saja dia?”
”Karena jengkel kuajak dia taruhan. Jika mampu membeli lima potong pakaian dari Boutiqe tante, maka dia menang dan boleh mengajakku pacaran. Tapi jika tak bisa, maka dia harus mentraktirku seminggu penuh.”
”Lantas?”
”Dia kalah,” sergahnya, ”aku pikir dia pasti pura-pura tak mampu membelinya, biar bisa traktir aku seminggu penuh. Dan itu benar-benar dia tepati.”
”Ditepati?” aku makin tak percaya.
”Tapi tau nggak di hari terakhir traktirannya itu?” ceritanya semakin bersemangat, ”dia sudah nyiapin surprise buat aku.”
”Terus?”
”Tapi karena aku tak mau kecolongan, maka aku kasih dia surprise duluan. Aku bilang bahwa minggu depan aku hendak kawin. Aku berikan undangan palsu buat dia,” ungkapnya sambil tertawa, ”selesai, dech!” Ia masih tertawa lepas
Dan memang, sebenarnya tanpa ditanya aku sudah sedikit tahu akhir cerita itu. Tapi aku tak mau ingkari, bahwa aku menyukainya. Hanya hingga sekarang aku tak perlu menanyakan siapa namanya. Buatku, itu akan membikin hubungan kita nantinya menjadi renggang. Bahkan hingga sekarang aku masih saja alergi mendengarnya.

Ya, nama yang kuperoleh dari penjaga baru di tokonya sore tadi. Dan aku tak akan menanyakan atau menyebut-nyebutnya. Nama itu, Astuti. Nama yang masih kuanggap sebagai nama ’jahanam’ dalam memoriku.

Surabaya, 30 Mei 2009
(Sumber: kompas.com)

About -dN5
Here I am........

One Response to Perempuan itu…

  1. Buddy says:

    kelihatannya…. tidak perlu amarah…
    ada toleransi lebih sehat….🙂

    coba aja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: