Nasihat mereka…

By Frank Benjamin

Beberapa tempat tlah kusinggahi. Tetap, aku masih tetap ingin berkeliaran hingga ke seluruh sudut-sudut yang ada di dunia ini.

nasihat perjalananSetiap tempat yang kusinggahi memberikan arti sendiri tentang kehidupan. Saat aku baru mengerti tentang suatu memori, aku belajar dari sebuah perbedaan. Sering aku bertanya, “Mengapa sifatku berbeda dengan kakak dan adikku?”… kadang pula terngiang di kepalaku, “Mengapa aku memiliki sifat dan tingkah laku yang berbeda dengan kakak dan adikku?”. Dan pikiran yang selalu bertengger di kepala adalah “kakak dan adikku memiliki sifat yang mirip, mengapa aku tidak?”

Saat itu, perbedaan merupakan suatu yang menyakitkan bagiku. Selalu dibedakan membuatku jengkel. Dibanding-bandingkan membuatku meneteskan air mata. Selalu merasa kesal dan sedih akan perbedaan.

Ketika aku menginjak remaja, aku belajar apa yang dimaksud dengan mandiri. Aku sudah sedikit mengerti apa arti perbedaan. Perbedaan yang membuatku jengkel akhirnya membuatku paham akan perjalananku selanjutnya. Karakter dan sifatku yang berbeda menggiringku untuk berjalan di jalur yang berbeda. Aku bisa merantau karena aku berbeda. Mereka percaya bahwa aku bisa ditinggal sendiri, karena aku berbeda. Di situlah, aku mendapatkan suatu kepercayaan karena aku berbeda. Hidup jauh membuatku sering menghabiskan waktu sendiri, segala pekerjaan dan kebutuhan harus kukerjakan sendiri. Disitulah pentingnya mandiri, aku sedikit memahami apa itu mandiri.

Saat aku remaja, aku telah lulus dengan kemandirian namun belum begitu ahli dengan kemandirian. Masa labil remaja, aku malah dituntut untuk menjadi dewasa. Lima tahun lebih dewasa dari usiaku. Di masa inilah aku belajar memahami arti emosi dan pengendalian diri. Aku mendapatkan nasihat mengenai kepemimpinan. Kepemimpinan yang sulit aku pelajari. Yang kupahami hanyalah, kepemimpinan bisa dilatih. Hal itulah yang menyebabkan aku tidak menyerah untuk belajar menjadi seorang pemimpin. Aku dituntut lebih dewasa karena aku berbeda. Perbedaan lah yang menuntunku pada akhirnya.

Di masa remaja itu, aku diajak mengunjungi suatu daerah tertinggal. Daerah yang masih sangat hangat, daerah pelosok yang masih sangat akrab, daerah yang masih murni, dan tidak terkontaminasi oleh duniawi. Penduduknya yang sederhana sekali, baik sekali, ramah sekali, rela berkorban, menjamu tamu bagaikan raja sesungguhnya dengan jamuan melebihi yang mereka jamu terhadap diri mereka sendiri. Tiga hari aku tinggal di tempat mereka. Tiga hari itu pula aku memahami bahwa kepolosan dan keluguan mereka yang sangat murni layaknya bayi, merupakan suatu komponen penting untuk bisa menyatukan kami layaknya saudara sendiri, tiga hari yang bermakna. Mereka tergolong tidak punya, bahkan di bawah tidak punya. Mereka tidak tidur di ranjang, rumah mereka berlantai tanah, ruangan mereka saling berbagi dengan bebek dan kambing yang mereka pelihara. Tapi mereka begitu mulia di mataku. Bukan harta yang membuat mereka mulia, namun suatu kekayaan hidup dan kekayaan hati mereka, mulia sekali bagiku.

Seorang tuai, aku tinggal di rumah ‘gedhek’nya. Seperti bapakku sendiri, dia menasihatiku untuk tidak takut kepada apapun bila aku benar. Tidak takut dibenci bila aku tidak berbuat salah. Tidak takut akan apa pun kecuali Tuhan YME. Sebagai pemimpin yang akan bergelut di kota, pasti ada beberapa orang yang mencaci maki dan menjatuhkanku, tapi beliau menyuruhku untuk tidak takut karena aku benar. Nasihat itu keluar dari seorang bapak yang bahkan tidak bergelut di kota sama sekali, bapak yang setiap hari menggiring bebeknya ke sawah. Dia kaya akan ilmu hidup. Segala hormat terhadap mereka.

Saat ini, aku beranjak dewasa dan bukan remaja lagi. Suatu ketika dalam perjalananku, aku bertemu dengan orang gila. Saat itu aku sedang dalam karantina di suatu kompleks militer. Tidak sengaja, orang gila tersebut memasuki kompleks. Kami ragu-ragu untuk mengusirnya, kami tidak tahu apa yang akan kami perbuat dan apa yang akan dia perbuat saat menanggapi apa yang akan kami perbuat tersebut. Kami diam. Saat itu, aku mendapat giliran menjadi pemimpin dalam tim kami. Aku teringat bahwa sebenarnya aku tidak perlu takut untuk melakukan suatu yang kuanggap benar, aku mengikuti kata hatiku.

Aku mendekati bapak gila yang hanya bercelana pendek tersebut. Kudekati dia layaknya aku mendekati orang biasa. Aku menuntunnya dan merangkul pundaknya sambil mengarahkan ke gerbang keluar. Saat itulah dia berbicara dan memberikan pendapatnya tentang diriku. Dalam bahasa jawa campuran (halus-kuno), pada intinya dia menatarkan bahwa aku bisa menjadi layaknya wali namun aku masih kehilangan lima. Mungkin teman-temanku tidak memperhatikan kalimat-kalimat yang terlontar dari bapak gila tersebut. Tapi aku mendengarkannya dengan sungguh. Aku masih mencari apa itu lima, shalat kah? atau lima perkara sebelum lima perkara?

Bukannya aku menganggap kata-kata tersebut serius, namun aku percaya bahwa untuk menuju kebaikan kita harus belajar dari apapun yang ada di sekitar kita. Karena angin yang berhembus pun memiliki makna tersendiri.

Perbedaan lah yang menuntunku beranjak dewasa… Dan Persamaan lah secara demokratis yang memberikan ikatan antara suatu insan dengan insan yang lain. Persamaan lah yang menyatukan kita sebagai saudara. Dan semua yang ada di sekitar kita memberikan suatu hikmah yang harus kita cari sendiri.

Aku meneruskan perjalanan…

Bandung, 12 Agustus 2009

About -dN5
Here I am........

3 Responses to Nasihat mereka…

  1. Milli T. says:

    Suka d….

  2. Pingback: Rio… My Invisible Friend… « Stories From The Road… SFTR

  3. Pingback: Boyolali dan Budiarto « Stories From The Road… SFTR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: