Bercinta dengan Abu

By Putu Nopi Suardani

Aku merasa menjadi wanita cantik! Kenapa?! Karena aku dicintai seorang laki-laki yang sangat aku cintai.

Aku merasa berarti! Karena aku bukan hanya memiliki hati dan jiwa, tapi hati ini juga telah dimilikinya_laki-laki itu.

Aku tidak pernah merasa sepi! Karena aku tidak sendiri.
Aku merasa kuat! Karena aku tidak berdiri di atas sepasang kaki, ada berpasang-pasang kaki.

bercintaAku akan menjadi pengantin yang cantik, karena calon suamiku juga sangat tampan. Aku hanya akan berciuman dengan suamiku. Tapi laki-laki itu–yang menyerahkan cintanya untukku–menciumku. Aku takut. Saking takutnya sampai-sampai lupa bahwa berciuman itu sangat indah. Bibirku sudah tidak perawan lagi. Bibirku sudah tidak manis lagi. Bagiku bibir yang tidak perawan sama saja dengan seluruh tubuhku ternoda. Jiwa, raga, hati, tubuh, dan rasa, semua berlumur dosa. Laki-laki itu harus bertanggung jawab. Dia telah merenggut kesucian bibirku. Aku bersumpah, aku akan menikah dengan laki-laki itu, yang kecupannya masih membekas di bibirku. Aku benar-benar merasa menjadi “wanita” saat dia memelukku. Dadanya hangat dan aku merasa aman di sana.

Aku pernah merasa tidak normal. Terus terang aku tidak tahu bagaimana caranya berciuman yang baik dan benar. Aku hanya diam ketika bibir kami bersentuhan. Ada aksi tapi tak ada reaksi. Aku sama sekali tak bereaksi. Aku ibarat patung wanita, dipahat untuk dicumbui pria. Mataku tertutup rapat saat wajah itu mendekat.

bercinta cinta kekasihSebenarnya aku ingin menatap wajah itu lekat-lekat. Tapi semuanya hanya sekejap. Berciuman itu seolah cepat datang cepat pergi. Aku tak peduli. Yang jelas aku merasa dicintai. Aku akan selalu ingat betapa manisnya saat itu, bermula ketika kakak kelas menyeberang dan naik di angkot yang sama denganku. Aku akan mengingat di toko buku itu, jalan-jalan sempit di pasar itu, di ulang tahun itu, di rumah sakit itu, di SMA itu, dan di saksi-saksi itu. Aku juga ingat hujan dan sore itu.

Aku akan menjadi ibu. Di rahimku ada bayi-bayi mungil. MURI akan mencatat namaku beserta bayi kembar limaku. Sebenarnya aku takut melahirkan. Orang Bali bilang megantung bok akatih. Tapi aku akan melahirkan kelima anak laki-lakiku. Suamiku akan menggenggam tanganku di ruang bersalin. Akan kugigit jariku kalau sakitnya tidak ketulungan. Anak-anakku tampan. Mungkin aku akan kewalahan menyusui lima bayi, tapi jangan sampai mereka tidak mendapat asi. Aku tidak mau susu kaleng meracuni bayi-bayiku. Lalu ayahnya akan bergadang sampai larut malam, menidurkan anak-anak kami.

Aku akan mengandung lagi. Aku ingin punya anak perempuan. Yang matanya sama belonya denganku. Yang rambutnya sama lurusnya denganku. Dan hatinya harus lebih jernih dan lebih bercahaya dariku. Anak-anakku tidak akan kurus-kurus. Aku akan kerja keras sama seperti bagaimana orang tuaku banting tulang demi aku. Anak-anakku akan bersinar, anak-anakku akan menebarkan cinta dan menorah senyum di wajah banyak orang. Anak-anakku, anak-anak suamiku, anak-anak kami adalah anak-anak Tuhan. Aku mau mereka memanggilku Memek, itu permintaan terakhir memekku (ibuku).

Anak-anak kita akan menemukan cinta. Aku akan menceritakan bagaimana aku jatuh cinta. Aku akan merasakan nafasmu pada jiwa anak-anak kita. Akan kubiarkan mereka jatuh cinta dan bagaimana mereka berjuang untuk cinta. Mereka akan kuat.
Suamiku, aku sangat mencintaimu! Seberapa besar, seberapa dalam, kau pasti tahu. Suamiku, anak laki-laki kita pasti mirip denganmu. Matanya sipit, sepertimu. Suamiku, aku tidak lagi menunggu sendirian. Aku dan anak-anak kita menunggumu pulang. Kalau kau sudah datang, jangan lupa ketuk pintu. Kalau bisa teriaklah supaya kami yakin bahwa itu suaramu. Tunggu saja di sana. Kami akan berlari dan menyambutmu di pintu gerbang. Jangan menyuruhku untuk mencintai orang lain. Sekali pun bisa, rasa itu takkan sama. Jagalah hati dan jiwa-jiwa kami.
***
Setra itu penuh orang-orang dengan beragam roman muka. Ada bermuka dua hingga seribu muka. Banyak yang sedih, tapi ada juga yang pura-pura menangis. Aku tidak berekspresi. Tidak menangis, tidak tersenyum, tidak pula tertawa. Tidak ada sisa-sisa air mata yang bisa dikeluarkan lagi. Seperti telaga yang kehilangan airnya. Semua mata tertuju pada satu hal yang sama. Api menjilat-jilat tubuh yang kehilangan ruhnya itu. Tubuh yang kehilangan nafasnya di pangkuanku. Tubuh itu pelan-pelan mengabu.

bercinta kekasih sayangKini di depan mataku tinggal abu. Aku menyaksikan puing-puing laki-laki itu ditebar di lautan, disucikan Hyang Penguasa Alam. Tapi di tanganku masih ada segenggam. Akan kubawa pulang segenggam cintaku. Aku masih ingat bahwa kami adalah segenggam pasir. Jika digenggam terlalu erat maka pasir itu akan menyembur di sela-sela jemari. Jika dibiarkan di atas telapak tangan terbuka, pasir itu lama-lama bisa ditiup angin. Jadi kami akan menjaga pasir itu baik-baik.

Laki-laki itu meninggalkan aku. Sebelum aku sempat menjadi pengantin wanitanya. Sebelum aku sempat melahirkan anak-anaknya. Aku ini bukan janda, tapi aku merasa kehilangan suamiku untuk selamanya. Permintaan terakhirnya, aku harus mencari pengganti dirinya. Aku tidak mau! Dia tidak bisa digantikan oleh apapun dan oleh siapa pun. Aku tidak ingin dikotori orang lain. Aku tidak mau dimiliki orang lain selain suamiku. Dan kini suamiku adalah abu.

Aku menantang angin, membuka kepalan jemariku perlahan. Abu itu kuangkat tinggi-tinggi. Sekiranya angin akan menerbangkannya dariku, sama halnya saat Tuhan mengambil laki-laki itu dariku. Tapi angin itu lebih suka menerbangkan ranting dan daun kering. Haruskah aku berterima kasih, karena satu-satunya yang tidak merenggut serpihan hatiku cuma angin.

Terima kasih. Terima kasih angin. Tolong katakan pada ilalang, aku merestui hubunganmu dengan daun-daun dan akar lapuk itu. Seperti kau merestui abu ini dalam genggamannku. Lalu kureguk abu itu, berpindah dari telapak tangan ke kerongkongan. Biarkan mengalir di pembuluh darahku dan bernafas dengan paru-paruku. Biarkan kami menyatu. Saat itu aku merasa ada dalam dekapan suamiku. Aku tertelungkup di atas aspal bersama suamiku. Kami berpelukan, berciuman.

Kudengar suara ribut-ribut. Orang-orang itu membangunkanku. Salah satu dari mereka membantuku berdiri. Ada ibu tua mengusap-usap wajah dan kepalaku. Ya Tuhan, aku tertidur di jalan raya. Aku masih di depan setra. Tapi orang-orang yang kulihat berbeda dengan wajah-wajah ketika menghadiri pemakaman itu. Mereka baik sekali. Ada yang mengambilkan air minum dan menawarkan untuk mengantarkan pulang.
“Rumah Anda di mana?”
Deg. Seketika aku lupa dari mana aku datang dan lupa jalan pulang.
“Suami Anda di mana??”
Suami? Suamiku? Di mana suamiku??
“Mengapa Anda berjalan sendirian?”
Aku tidak sendirian. Aku bersama Tuhan. Tidakkah kau lihat di sebelahku ada Tuhan.
“Tidak baik wanita hamil berjalan-jalan sendirian. Apalagi sampai pingsan di tengah jala,” kata wanita tua itu mengelus kepalaku.

Hamil? Siapa yang hamil?! Aku masih mahasiswa, bagaimana mungkin hamil.
Kulihat dan kuraba perutku. Perutku besar, aku hamil!. Ya Tuhan, aku hamil?! Ada sepuluh kaki di dalam sana, menendang-nendang. Ya Tuhan, aku mengandung bayi kembar limaku. Tiba-tiba pipiku sudah basah oleh air mata. Kulihat bayangan putih suamiku tersenyum, melambai, menghilang di balik pepohonan.

(Sumber: kompas.com)

About -dN5
Here I am........

One Response to Bercinta dengan Abu

  1. Milli T. says:

    Cerita manis dan tabah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: