Lari Dari Kebebasan…?

By Frank Benjamin

kebebasanKebebasan adalah hal sulit untuk dimiliki dan jika kita mampu, kita cenderung lari darinya. Ada tiga perspektif tentang ‘lari dari kebebasan’ di bawah ini yang dapat kita cermati:

Pertama, otoritarianisme. Kita berusaha menghindari kebebasan melalui penggabungan diri kita dengan orang lain, dengan menjadi bagian dari suatu sistem otoritarian. Ada dua cara untuk menjalan hal ini. Satu, dengan menyerah pada kekuatan lain, menjadi pasif dan pasrah. Dua, dengan menjadi kekuasaan itu sendiri, seseorang yang menerapkan struktur pada orang lain. Mana pun yang dipilih, kita telah lari dari kebergandaan identitas kita. Bentuk ekstrim dari otoritarianisme seperti masokisme dan sadisme.


Kedua, destruktivitas. Penganut otoritarian memberi reaksi pada eksistensi yang menyiksa – sedikit banyak – dengan mencoba melenyapkan diri mereka sendiri: Jika tidak ada aku, bagaimana sesuatu hal bisa melukai aku? Namun, yang lain merespons rasa sakit dengan menyerang dunia: Jika aku menghancurkan dunia, bagaimana ia bisa melukai aku? Lari dari kebebasan semacam inilah yang bertanggung jawab atas banyak kejahatan dalam kehidupan ini – kekejaman, pengrusakan, penghinaan, kriminalitas, dan terorisme. Jika hasrat merusak seseorang terhalang oleh keadaan, ia akan mengubah arahnya justru ke dalam dirinya sendiri. Bentuk paling nyata dari penghancuran diri sendiri, tentu saja, adalah bunuh diri. Namun, bisa juga dimasukkan ke dalamnya bentuk-bentuk penyakit, kecanduan obat, alkoholik, bahkan kesenangan terhadap hiburan pasif.

Ketiga, Persuasion Automation. – orang atau hewan yang bergerak secara otomatis. Kaum otoritarian lari dengan bersembunyi dalam hierarki otoritarian. Namun, masyarakat kita menekankan persamaan. Ketika ingin bersembunyi, kita bersembunyi di dalam budaya masyarakat kita. Orang yang memanfaatkan persesuaian otomaton akan seperti bunglon sosial. Ia mengubah warna sesuai warna sekelilingnya. Oleh karena itu, ia tampak seperti jutaan lainnya, dia tidak lagi merasa sendirian, tapi ia juga bukan dirinya sendiri. Orang-orang ini mengalami pemisahan antara perasaan aslinya dan warna yang ia tunjukan pada dunia.

Pada ujungnya dan pada kenyataannya pula, karena ‘sifat dasar’ umat manusia adalah kebebasan, setiap cara lari dari kebebasan di atas akan semakin menjauhkan kita dari diri kita sendiri.

“Mungkin kita gigih memperjuangkan demi kebebasan, namun ketika kita sudah mendapatkannya, kita cenderung menjadi kompromis dan seringkali tak bertanggung jawab”.
Pertanyaannya apakah kita harus berhenti di sini?

Jawabannya: Tidak. Kita harus senantiasa sangat mendukung kebebasan yang mampu memanfaatkan kebebasan tersebut dan mau memikul segala tanggung jawab yang datang bersamanya. Selain itu, kita harus berjuang tidak saja melawan bahaya kematian, kelaparan, atau dilukai, namun juga melawan suatu bentuk kegusaran lain yang hanya dimiliki manusia: yaitu kegilaan. Dengan kata lain, manusia harus melindungi diri bukan saja dari bahaya kehidupan, namun juga dari bahaya kehilangan akal pikirannya.

Merdekakanlah Akal Pikiran Kita…!

———————————
Bandung, Jumat, 26 Juni 2009.

Frank Benjamin. Tinggal di Bandung. Rajin menulis artikel di situs-situs pertemanan.
Artikel Frank Benjamin lain dapat ditemui di.. kLik disini…..

About -dN5
Here I am........

One Response to Lari Dari Kebebasan…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: