Apakah Mereka Lebih Berdosa..??

By Kang Samad

Sebuah respon alamiah manusia muncul ketika menghadapi masalah, “Apakah salahku, kenapa masalah ini terjadi padaku..?”

Di dalam logika tebar- tuai/ aksi-reaksi/ amal-pahala dan dosa-hukuman/ karma maka ungkapan-ungkapan tersebut muncul. Ada sebuah siklus yang tidak terputuskan di dalam rangkaian sebab akibat pada kehidupan manusia.

Dengan gampang kita mencari kambing hitam terhadap setiap permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan orang, bencana, penderitaan, dsb. Di dalam kaitannya dengan gempa di Padang saat ini (pun seperti juga bencana lainnya) muncul juga banyak diskusi di dalam forum yang berkaitan dengan cara pandang ini. Ungkapan yang cukup umum namun menggelitik saya adalah, misalnya : bencana terjadi karena Tuhan murka terhadap maksiat manusia…


Untuk lebih detilnya lihat di blog dan diskusiya di link berikut : Kompas, sebuah pernyataan dari Ketua MUI Sumut, Prof Dr H. Abdullah Syah, MA (yang menuai banyak polemik..) :

Namun, musibah gempa itu juga bisa berarti peringatan karena banyaknya maksiat atau perilaku masyarakat yang bertentangan dengan ketentuan agama. Untuk itu, selain bersabar, warga Sumbar yang mengalami musibah gempa tersebut juga harus banyak memohon ampun kepada Allah SWT karena mungkin banyak melakukan kesalahan.

Peringatan itu juga berlaku untuk masyarakat di daerah lain, termasuk Sumut agar banyak memohon dan bertobat jika telah melakukan kesalahan dosa.

Selain itu, musibah tersebut juga peringatan untuk pemerintah agar lebih giat memberantas maksiat dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. “Pemerintah harus sadar, banyaknya tempat maksiat justru mengundang bala bagi daerah itu,” katanya.

Begitu mudahnya kita menyalahkan orang lain, bahkan mereka yang menderita (blame the victims). Tanpa hati dan empati memposisikan dirinya lebih baik, lebih tidak layak mendapat musibah, lebih suci dibandingkan mereka yang mendapat musibah.

Pertama, betapa rabunnya di dalam mendefinisikan kemaksiatan, yang selalu saja dihubungkan dengan keberadaan tempat maksiat. Padahal betapa liciknya hati manusia, penuh dengan hawa nafsu, iri hati, dengki, perseteruan, dendam, tanpa belas kasihan, kesombongan, kebencian, kejahatan dsb. Semuanya itu berasal dari “tempat” yang sangat dekat dengan diri kita sendiri. Tetapi kita tidak pernah menyadari keberdosaan kita dan kebangkrutan diri kita yang sebenar-benarnya. Sehingga dengan mudahnya saya menjadi hakim bagi sesama saya.

Kedua, betapa kebutuhan kita untuk melihat di dalam cara pandang yang baru untuk memutuskan siklus sebab-akibat dari bencana tersebut. Bukan dengan cara menyalahkan korban (karena terjadinya banyak kemaksiatan), tetapi dengan di dalam perspektif yang luhur.

Isa Almasih di dalam Lukas 13:1-5 pernah ditanya pertanyaan yang mirip kasus di atas :

Pada waktu itu juga beberapa orang memberitahukan kepada Isa mengenai orang-orang Galilea yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Isa bersabda kepada mereka.”Menurut pendapatmu, apakah orang-orang Galilea itu lebih berdosa daripada semua orang Galilea lainnya karena mereka mengalami hal yang demikian itu?” Aku berkata kepaamu, tidak. Tetapi jika kamu tidak bertobat, maka kamu semua pun akan binasa. Atau mengenai delapan belas orang yang mati ditimpa sebuah bangunan tinggi di Siloam itu, menurut pendapatmu apakah mereka lebih berdosa daripada semua orang di Yerusalem? Aku berkata kepadamu, tidak. Tetapi jika kamu tidak bertobat, kamu pun akan binasa.

Mereka, orang Padang, tidak lebih berdosa dari pada saya dan anda.

Mereka mengalami musibah, dan saya dan anda pun juga tidak dapat terhindar dari musibah, dan semuanya tidak bisa menghindar dari kematian. Tidak ada beda mereka yang menjadi korban dengan saya dan anda. Oleh karena itu justru seharusnya membuat menyadari betapa rapuhnya kehidupan ini dan kemudian menghasilkan kasih serta simpati yang tulus.

Orang Padang, saya dan anda berada dalam kategori yang sama, manusia yang berdosa (kecuali anda orang suci..). Justru di dalam kategori itu, Isa Almasih menawarkan diriNya sebagai jalan, kebenaran dan hidup bagi setiap orang.

Sabda Isa Almasih memberi penekanan yang baru, ” Aku berkata kepadamu, tidak. Tetapi jika kamu tidak bertobat, kamu pun akan binasa.” Jika saya tidak bertobat dari dosa saya, saya akan binasa di dalam kebinasaan yang kekal. Jika saya berlaku munafik dengan segala keberagamaan lahiriah saya, dan tidak menyadari kebusukan dan kebangkrutan hati saya di hadapan Allah serta menyadari kebutuhan saya akan anugrah Allah, saya pun akan binasa di dalam kebinasaan yang kekal.

Sang Isa Almasih junjungan yang ilahi penuh dengan anugrah dan kebenaran, Dia dengan lemah lembut selalu menantikan kedatangan kita di dalam rengkuhan tangannya yang penuh kasih dan penghiburan. Marilah kita berseru memohon anugrah dan kebenaranNya.

(Ikut simpati kepada mereka yang tertimpa bencana gempa di Sumbar dan Jambi, doa saya kiranya Allah yang maha kasih memberikan penghiburan yang sejati di dalam setiap keluh kesah kesusahan dan penderitaan yang dialami Saudara kami di sana..).

(Artikel ini merupakan re-bLog dari kompasiana)

About -dN5
Here I am........

5 Responses to Apakah Mereka Lebih Berdosa..??

  1. Diah Anggreni says:

    Saya setuju sekali dengan pandangan untuk tidak mengaitkan antara musibah yang terjadi dengan peringatan dari Allah SWT. Apalagi bila itu dilakukan pada saat bencana tersebut terjadi. Kayanya ngenes banget, sudah terkena bencana masih aja di-salah2in. Lebih baik kita fokus pada memberikan pertolongan yang semaksimal mungkin kepada masyarakat di daerah yang terkena bencana dan mencari jalan keluar yang terbaik untuk meminimalisir dampak bencana. Sudah waktunya pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama bahu membahu mencari jalan agar bencana apapun yang terjadi dapat segera ditangani. Allah SWT dalam wahyu pertamanya kepada Rasullullah Muhammad SAW, menyatakan agar kita “membaca” (iqra). Membaca sangat luas artinya, termasuk membaca tanda2 alam, membaca/mencari/memperdalam pengetahuan untuk keselamatan manusia sesuai dengan tugas manusia sebagai Khalifah di bumi.

    • -dN5 says:

      Iya benar Diah… Mungkin maksud penulisnya – Kang Samad – lebih baik kita pikirkan segera rasa peduli kita, lingkungan kita sebagai bangsa…. Bagaimana juga cara membantu segera untuk mengurangi penderitaan mereka…..

  2. Pingback: Gempa… Marilah Peduli… « Stories From The Road… SFTR

  3. Yang lebih tahu dosa kita tentu Tuhan YMK,manusia tidak berhak menilainya.

  4. Pingback: Gempa lagi, 6.4 SR.. Mengapa jadi paranoid…?? « Stories From The Road… SFTR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: