Apa yang Kita Sombongkan…..

By Riena Mulyani

sombong(Maaf bagi yang tidak berkenan……..)

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan.
Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras…..

Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”
Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat.”

“Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”


Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya.
Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan.

Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence).
Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan.

Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa.
Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup.

Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego.
Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka).
Inilah akar dari segala permasalahan.

Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati.

Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual.
Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.

Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal.
Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”.
Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.
Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi.

Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah.
Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain.

Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.

Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri.

Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

7 Oktober 2009
————————————-

Riena Mulyani. Alumnus IPB, Bogor. Tinggal di Banten.

About -dN5
Here I am........

7 Responses to Apa yang Kita Sombongkan…..

  1. Sombong itu tdk baik ,tapi perlu juga untuk hal2 tertentu…..kadang2 org menganggap rendah seorang yg terlihat bersahaja,tp penuh dg prestasi….nah prestasi ini yg kadang perlu disombongkan…drpd gak punya apa2 tp sombong…lbh baik yg punya apa2 bs sedikit sombong(wong ada kok buat disombongkan).

  2. yitno says:

    kadang rasa ego kita yang sangat berlebihan sehingga menanamkan benih2 kesombongan,,,alangkah baiknya kalau kita selalu ingat waktu kita lahir tanpa membawa apa2…matipun tidak membawa apa2.

  3. R0n4d1 says:

    saya pernah bertanya mengenai sombong, mungkin dapat menjadi masukkan he..he..😀

    di bawah ini ada sedikit petikan jawaban dari prass_sahabatku@yahoo.com

    “Sombong itu seperti
    semut hitam di atas batu hitam di malam hari. Nah looo ….

    jadi saking ‘nggak keliatan’nya kadang2 tanpa sadar kita kita sudah sombong …

    Menurut pemahaman saya tentang sombong, sombong ini cuma kita sendiri (dan Tuhan) yang tahu (malah seringkali
    nggak tahu kalau kita sombong — tapi belakangan biasanya menyadarinya juga kalau secara sadar kemudian
    memeriksa motif/niat). Sombong terkait dengan ‘motif/niat’ … untuk apa kita ngomong atau berperilaku tertentu.
    Supaya kedengaran hebat ? Dikagumi ? membuat diri menjadi ‘megah’ dan agung lebih dari orang lain ?
    yang intinya membuat kita lupa kalau yang menjadikan diri kita ‘seperti ini’ adalah izin dan kuasa Tuhan YME.

    Bercerita prestasi diri sendiri, bisa jadi bukan sombong kalau niat di dalam diri membantu orang dengan memberi
    inspirasi. Memakai pakaian sederhana di tengah orang2 berpakaian necis bisa jadi sombong juga karena ingin disebut
    ‘humble’ ….

    Tapi tidak berbuat sesuatu karena takut dibilang sombong itu menghilangkan keberuntungan … hehehehe …
    karena sombong urusan kita dengan Tuhan kita, karena kita tidak perlu menilai orang lain sombong atau tidak.
    Mau sombong karena menyumbang ? .. ya biarin, yang penting dia menyumbang .. itu lebih bermanfaat daripada
    tidak menyumbang karena takut dikatain sombong …
    Jadi menurut saya, mengelola kesombongan itu lebih kepada mengelola motif/niat. Belajar untuk tidak
    sombong itu susah ? ya memang …. kan kita juga diberi nafsu untuk kita kuasai .. ,
    Karena sebenarnya ‘pangkal’nya adalah fokus niat/motif, bagi saya lebih baik belajar meluruskan dan memfokuskan
    motif/niat …

    Satu lagi … ngomong lebih mudah daripada menjalankannya … artinya, saya ngomong ini ‘gampang’ ..
    padahal kalau dijalankan .. hehehehe …. penuh perjuangan ….”
    Semoga bermanfaat he..he..

    Be + and keep smile😀

  4. yitno says:

    luar biasa sekali sang Guru itu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: