Pukuli Sampai ‘Mati’… Thierry Henry, Pecundang Terbesar…

Sebenarnya Samsuri sudah terkantuk-kantuk menonton pertandingan itu melalui layar televisi, babak play off Zona Eropa antara Perancis melawan Irlandia… Tetapi entah apa yang ada dibenaknya, tertarik melihat permainan kesebelasan antar negara Eropa ini yang bersaing mendapatkan tiket sisa untuk mengikuti ajang terakbar di dunia sepakbola – Piala Dunia Sepakbola 2010, Afrika Selatan…

Pertandingannya sendiri berlangsung menggairahkan, mengingat usaha keras Irlandia di bawah asuhan pelatih berpengalaman – Giovanni Trappatoni – yang terlihat begitu mendominasi pertandingan, dan sudah memimpin melalui goL Robbie Keane.. Sebenarnya sebagian besar penonton yakin pertandingan ini akan berakhir 1 – 0 dan akan dilanjutkan dengan tendangan penalti (pada pertandingan pertama di Stadion Hampden Park, Irlandia, Perancis yang menang 1 – 0), tetapi pada menit terakhir injury time, Perancis mendapat hadiah tendangan bebas dan sebuah tendangan ke samping kanan gawang Irlandia di sambut oleh Thierry Henry, penyerang Perancis… Disinilah malapetaka itu muncul… Henry mengontrol bola menggunakan tangan kirinya.., dan serta merta seluruh pemain bertahan (termasuk kiper Shay Givens) dari Irlandia mengangkat tangan untuk memberi tahu wasit, bahwa bola dikontrol dengan tangan, tanda terjadi handsball di kotak penalti, tampaknya wasit Martin Hansson dari Swedia tak melihat insiden itu….. Henry berlagak bodoh tetap mengoper bola ke temannya di depan gawang, William Gallas dan….. Gol…..


Berkat handsball bersejarah itu, Perancis bisa menutup laga dengan skor 1-1. Mereka pun lolos ke putaran final Piala Dunia dengan agregat 2-1…..

Samsuri merasa kesal, walau dia sendiri bukan pendukung Irlandia, Prinsip fair play seperti yang dijunjung tinggi FIFA (organisasi dunia yang menaungi seluruh masyarakat sepakbola sejagat) rupanya tidak berlaku disini. Kemarahan Samsuri hanya mewakili sekian banyak pecinta sepak bola se dunia…. Kemarahan… Barangkali apa yang diucapkan pelatih Arsenal, Arsene Wenger menilai mantan pemainnya, Thierry Henry, menjadi pecundang terbesar dalam kontroversi partai Perancis lawan Irlandia.

Posisi Henry amat sulit. Jika saat itu dia langsung mengaku kepada wasit bahwa dia telah melakukan handsball dan gol Gallas dianulir.., maka dia akan dibenci seluruh Perancis. Sebab, dia dianggap menggagalkan negerinya ke Piala Dunia. Karena dia mengaku sengaja handsball usai pertandingan, maka dia dikecam seluruh dunia sebagai penipu. Dia akhirnya menjadi pecundang besar..,” kata Wenger.

Reaksi lebih keras dari mantan pemain tim nasional Perancis dan Manchester United, Eric Cantona, mengatakan bahwa Thierry Henry beruntung karena Cantona bukanlah pemain Irlandia… Seandainya begitu, ia akan memukuli Henry sampai pingsan…

Lebih jauh lagi kecaman dari banyak orang terkait handsball gila itu… Cantona malah begitu jengkelnya melihat sikap pemain Irlandia. Dia menilai, ketika mereka tahu bahwa protes mereka tak didengar, seharusnya mereka memukuli Henry. Kan.., hasilnya sama saja…. Sama-sama tidak lolos… Benar juga yaa… Hahaha…..πŸ™‚

Apa yang membuat saya sangat terkejut adalah bahwa pemain ini (Henry), di akhir laga, di depan kamera TV, duduk di sebelah seorang pemain Irlandia untuk menghiburnya. Padahal, ia baru saja mengacaukan mereka. Seandainya saya orang Irlandia, ia (Henry) tak akan bertahan lebih dari tiga detik…,” ujar Cantona.

Bagi Samsuri pernyataan Cantona belum dapat mewakili rasa amarahnya terhadap ‘pencederaan kejujuran’ dalam suatu pertandingan olah raga, khususnya sepak bola… Tetapi bila Cantona cukup sampai pingsan.., Samsuri berpandangan lain, bila dia ada di tengah lapangan, barangkali dia akan memukuli Henry sampai ‘mati’….. Itu lebih pantas buat para penipu…!!! Memang FIFA berpandangan lain, prinsip fair play, termasuk keputusan wasit – yang juga manusia biasa – yang mutlak. Kemanusiaan itu menjadikan sepak bola drama penuh gairah yang ibarat lambang drama, berwajah tangis dan tawa. Itu juga yang membuat FIFA menolak penggunaan alat-alat elektronik bagi wasit untuk mengambil keputusan – seperti tayang ulang rekaman televisi untuk memastikan si kulit bundar melewati garis gawang atau tidak.

Apapun alasan FIFA, itu tidak cukup bagi Samsuri, menurut penilaiannya bila mau menjunjung fair play tentu harus konsekuen ke semua segi….. Hahaha….. Memang disitulah makna kehidupan itu sendiri, peperangan pola pikir antara para “tradisionalis” – yang menginginkan sepak bola dimainkan seperti apa adanya… dan “modernis“…dengan keinginan ‘perubahan’… yang pengejawantahannya bisa terlihat di lapangan sepak bola itu.

Sepak bola adalah demokrasi. Ia demokratis karena setiap anak (kaya-miskin, gemuk-kurus, tinggi-pendek) mampu memainkannya di mana saja dengan benda bulat terbuat dari kulit, plastik, kain, bahkan buntalan sampah. Ketegangan Perancis lawan Irlandia menegaskan bahwa sepak bola, seperti halnya politik, urusan “siapa merebut apa, kapan, dan bagaimana“.

Rasa jengkel dan amarah Samsuri tidaklah bisa hilang serta merta… Belum lagi perasaan kurang tidur, mengingat pertandingan sendiri berakhir nyaris jam 5 pagi, besoknya harus melakukan banyak kegiatan…. Bersungut-sungut karena menahan marah, tidak biasanya begitu….. Seandainya pertandingan berakhir normal, barangkali tidur bisa nyenyak dueehh…… Sepak bola… Oh…. sepak bola…

Artikel terkait… FIFA Pertimbangkan Pemakaian Kamera

(Diolah dari berbagai sumber)

About -dN5
Here I am........

5 Responses to Pukuli Sampai ‘Mati’… Thierry Henry, Pecundang Terbesar…

  1. Pingback: KEBANGGAAN & KEBANGSAAN « Stories From The Road… SFTR

    • -dN5 says:

      Henry seorang pemain besar…. Tetapi kita menyesalkan tindakannya yang mencoreng nilai ‘fair play’ dalam sepak bola, yang justru didengungklan oleh FIFA sendiri….. Memalukan !!

      Selanjutnya Perancis akan dikenang seterusnya sebagai penipu…..

  2. Lyanti ゆきこ Parmasahati says:

    weleeehhhh….. that ‘s football… sometimes bkn kesel or cuek… but we still love football… heheee *_^

    • -dN5 says:

      Benar… sepakbola bisa menyihir kita, kadang kita senang kadang juga membuat jengkel…. Jadi sebenarnya menggambarkan kehidupan itu sendiri ya, Yanti….. Itu sebabnya sepakbola digemari…..πŸ™‚

  3. Pingback: Sudahlah… Hendri Mulyadi Memberi Contoh… Gantian ‘dong’ Ngurusin Bola… « Stories From The Road… SFTR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: