Macbeth’s Shakespeare.. Minah, Anggodo.. Antara Tragedi dan Realitas…..

Macbeth adalah sandiwara tragedi karya William Shakespeare yang ditulis sekitar tahun 1606. Drama ini adalah salah satu tragedi Shakespeare yang terkenal dan juga yang paling pendek…

Tragedi ini menceritakan tentang ambisi yang berubah menjadi kejahatan, seorang jenderal yang mengkhianati rajanya, sahabatnya, bahkan jiwanya sendiri. “Fair is foul, and foul is fair” adalah inti dari Macbeth yang mengisahkan pahlawan-panglima Macbeth dan istrinya yang berambisi menjadi raja dan ratu Skotlandia. Mereka mengira bahwa satu-satunya jalan menuju tahta raja adalah melalui pedang… Tetapi niat jahat memiliki rencana sendiri untuk menampakkan jati dirinya…

Tentang Apa?
Macbeth adalah seorang jendral di bawah pemerintahan raja Skotlandia Duncan I. Pada suatu hari ia dan temannya Banquo bertemu dengan tiga tukang sihir yang meramalkan bahwa Macbeth bakal menjadi raja suatu hari, dan Banquo walaupun tidak akan menjadi raja tapi akan memperanakkan raja-raja…


Ketika Macbeth pulang dan memberitakan hal ini kepada istrinya Lady Macbeth, ia segera menyusun rencana untuk membunuh Duncan yang akan berkunjung dan menginap di rumah mereka. Setelah menjadi raja, Macbeth juga takut bahwa Banquo akan membocorkan rahasia tentang ketiga tukang sihir, dan memerintahkan ia dibunuh juga…

Sementara itu seorang jendral lain yang bernama Macduff menjadi curiga akan tingkah laku Macbeth yang menampakkan gejala-gejala ketakutan dan rasa bersalah. Ia kemudian bergabung dengan Malcolm dan Donalbain, kedua anak Duncan yang juga merasa curiga…

Perasaan takut Macbeth mendorongnya untuk mencari tukang-tukang sihir itu lagi, dan kali ini mereka meramalkan bahwa Macbeth akan tetap hidup “sampai hutan Great Birnam datang ke bukit Dunsinane“. Selain itu, juga bahwa Macbeth tidak akan dibunuh oleh seorang yang dilahirkan dari seorang wanita… Berpikir bahwa ini hal yang mustahil, Macbeth menjadi sombong dan puas akan jawaban ini. Tapi Lady Macbeth akhirnya tidak kuat lagi dan menjadi gila. Terutama ia merasa bahwa ada noda darah di tangannya yang tidak mau hilang walaupun dicuci berkali-kali…

Malcolm dan Macduff pergi ke Inggris dan merencanakan kudeta untuk membunuh Macbeth. Mereka akhirnya menyerang puri Macbeth dengan sekelompok prajurit, sambil membawa pucuk-pucuk pohon dari hutan Great Birnam sebagai samaran (hutan Birnam datang ke bukit Dunsinane). Macduff berhasil memaksa Macbeth untuk berduel dengannya. Macbeth masih merasa sombong karena berdasarkan ramalan tukang-tukang sihir, ia tidak akan pernah dibunuh oleh “seseorang yang dilahirkan dari seorang wanita“. Tetapi Macduff menjawab bahwa ia “diambil dari rahim ibunya” (dengan operasi caesar). Akhirnya Macduff berhasil memotong kepala Macbeth dan menyerahkan tahta kerajaan kepada Malcolm

Tragedi dan Realitas
Seperti yang diulas oleh seorang jurnalis di harian “Kompas Minggu“, 22 November 2009, Putu Fajar Arcana, pada dasarnya, kita sangat suka terhadap tragedi… Lihatlah kisah menjengkelkan dalam sistem peradilan di sekitar kita. Tragedi sebuah ruang pengadilan di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, dipicu oleh seorang ibu berusia 55 tahun, Minah yang mengambil 3 butir buah kakao di sebuah perkebunan, PT Rumpun Sari Antan 4 dan bandingkan bagaimana cepatnya respon pihak kepolisian memproses laporan dari Pengacara Anggodo terhadap ramainya pemberitaan bukti rekaman pembicaraan ini di Sidang MK (Mahkamah Konstitusi) di media massa – seperti yang diulas oleh media online kompas.comNegeri Tercinta Anggodonesia.

Mereka tidak saling mengenal, Anggodo hidup di metropolitan Jakarta, Minah hidup di dusun perbukitan Banyumas, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.. Meski hidup di payung hukum negara Indonesia yang sama, nasib mereka amat bertolak belakang. Status hukum Minah adalah terpidana kasus pencurian, sedangkan Anggodo adalah pelapor kasus penyadapan.
Anggodo dan Minah adalah permodelan untuk sebuah penjelasan tentang perlakuan pemerintah Indonesia terhadap warga negara. Sebab urutan kejadian tidak hanya memberi makna dari istilah “persamaan di depan hukum”. Selain nilai keadilan, ada nilai lain yang tidak bisa diabaikan dalam praktik berbangsa.

Memang kisah di lantai pengadilan itu menjengkelkan dan membuat rasa keadilan semakin terkoyak, sebuah institusi lebih kuat menikam rakyat kecil…
Itulah panggung teater sesungguhnya dalam realitas kehidupan, apakah lakon Tragedi Macbeth, 20-22 November 2009, yang dipentaskan oleh Teater Sastra Universitas Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta dapat menjadi contoh tragedi bentuk lain…??

Usaha sutradara I Yudhi Soenarto, master teater dari State University of New York, Amerika Serikat, mengontekskan tragedi dalam drama karya William Shakespeare satu sisi pantas layak diapresiasi.., mengingat tantangan yang harus ditaklukkan saat memilih naskah ini untuk merayakan puncak 25 Tahun Teater Sastra UI.

Lebih lanjut adalah bagaimana menjadikan panggung teater sebagai arena yang pantas ditonton publik karena berbagai pertimbangan setelah melihat realitas sehari-hari jauh lebih tragis ketimbang panggung teater itu sendiri. Perkara Cicak vs Buaya, yang melibatkan institusi penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sudah berbulan-bulan ”mencuri” perhatian publik. Di situ kesenian (teater) harus benar-benar bisa menunjukkan dirinya sebagai ruang-renung dan muara katarsis, yang tidak berhenti pada konteks hiburan semata-mata…

Lakon Macbeth
Lakon Macbeth diakui banyak aktor dan sutradara sebagai naskah yang berat. Di dalamnya banyak dialog yang berpanjang-panjang, penuh dengan renungan hidup yang ditulis Shakespeare secara metaforis. Lantaran mengikuti secara tertib hampir seluruh adegan, pementasan Teater Sastra UI sampai memakan waktu lebih dari 3,5 jam. Terlihat dalam durasi pentas yang panjang mengumbar dialog-dialog filosofis secara verbal, tentu bisa jadi itu pekerjaan yang tidak terlalu menguntungkan. Tidak saja lantaran sekarang hidup kita didominasi oleh kultur visual, tetapi sekali lagi, tantangan panggung teater kini ”melawan” kekejaman realitas itu sendiri.

Realitas saat ini membuat kita berpikir keras, bagaimana melihat ketidakadilan terjadi, tragedi dianggap lazim dan bersembunyi di balik semua hal yang bersifat legal formalistic demi prosedur yang menghamba kepada sistem. Kita menjadi tawanan legalistic mind. Sikap dan tindakan kita dipengaruhi secara kaku dan berlebihan.
Hidup dalam keterpaksaan dan kepura-puraan dalam sistem yang tidak memberi peluang bagi rakyat kecil untuk memperoleh kesempatan sama – yang seharusnya dibimbing dan dilindungi? Dan itulah tragedi sesungguhnya yang harus kita lewati…

(Diolah dari wikipedia.org, kompas.com)

About -dN5
Here I am........

2 Responses to Macbeth’s Shakespeare.. Minah, Anggodo.. Antara Tragedi dan Realitas…..

  1. Pingback: Rekaman Pembicaraan yang ‘Heboh’ itu….. « Stories From The Road… SFTR

  2. nez says:

    inilah contoh keadilan model kita…??
    kenapa begini yaa…??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: