Nurani di Musim Hujan

Rini berlari-lari kecil menghindari hujan rintik di pagi hari dari halte busway menuju ke gedung perkantoran dimana kantornya berada…. Dia tergoda untuk berhenti sejenak di Starbuck’s Café di gedung sebelah kantornya, singgah sebentar dan membeli kopi, coffee latte yang nikmat….. Brrrr… Hujan ini…. Menjengkelkan tapi asyik…. Sebeelll dueehh….. Tadi pagi di rumah dia sudah berdandan khusus, menggunakan sepatu high heels, pakaian bebas santai – casual, lipstick berwarna natural lembut…. Hari ini kan Jumat… Thank’s God, It’s Friday…!! ..Aiiyyhh…… Happy…… Iya… heppiiii aja dueh… Walau jengkel juga, siapa siyy yang ciptain sepatu hak tinggi… Kakinya rada pegel niey… Hihihi… Tapi demi gaya…. Maksa aja… Dia sudah berjanji dengan seorang ‘teman’nya untuk bertemu nanti malam seusai jam kantor, menghabiskan malam hang-out, di sebuah mal di Jakarta Selatan…..😉


Di café ini tempat dia berhenti sudah ada beberapa orang disana sambil berteduh menunggu sampai cuaca mau menjadi teman baik, jam ditangannya masih menunjukkan dia datang 40 menit lebih awal, tak perlu terburu di akhir minggu…
Titik-titik hujan yang menerpanya tampak seperti kilau lampu warna-warni ditimpa kilatan cahaya matahari pagi yang mengintip malu di balik awan… Rini sangat menikmati suasana ini, pesona di Jumat pagi…

Suara ban mobil yang lalu lalang di depan gedung beradu dengan licinnya aspal menimbulkan uap tipis yang melayang-layang dihembus angin semilir. Seperti kabut pagi tetapi bukan kabut. Uap itu menimbulkan aroma khas, humm….. Suara mesin mobil, bau aspal, harum tanah bercampur sisa debu…. Menguap ditiup angin pagi, Rini merasa mabuk dengan semuanya…. Pagi yang segar pantas untuk dinikmati, sambil memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk memenuhi setiap relung dadanya, denyut nadinya, desir darahnya… Aahh nikmatnya… Mengapa dia merasa bagaikan berada jauh dari segala bentuk kegelisahan, kecemasan dan ketakutan, walaupun dia tahu masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini di kantor…

Dia keluar sambil berdiri di dalam lobby gedung… Tiba-tiba dia mendengar suara ‘mendehem’ dari seorang pria di sebelahnya, tadi sebenarnya dia sudah melihat sekilas pria ini di dalam café, muda dan ganteng…. Metropolis… Halus, rapi dan rupawan… Yang juga rupanya berteduh sejenak sambil menunggu rintik hujan berkurang… Dia diam saja, tetap memejamkan mata, sambil menunggu apa yang diinginkan pria ini darinya…. Kelihatannya ingin mengajak berbicara, dia masih diam. Nalurinya tetap waspada, tetapi… Tiba-tiba suasana ini terpecah ketika, seorang anak penjual koran pagi berteriak lantang dari seberang kantor, basah kuyup berlari ke arah mereka…. Sambil tetap mengacuhkan pria ini, dia membeli sebuah koran pagi dan sekilas melihat headline berita….

Sambil terus membolak-balik halaman koran pagi.

Humm… Mbak, bagaimana pendapat mbak tentang Rani?” si pria mengajaknya berbicara sambil melihat ke koran yang dipegangnya, Rini melirik sejenak, semula dia enggan untuk menjawab, tetapi…Humm menarik juga topik yang diawali sang pria. Tentu maksudnya si “Rani” yang itu. Kasus Antasari Azhar, Ketua KPK non aktif… Memang tadi malam dia mengikuti wawancara langsung antara Rani dengan beberapa wartawan televisi berita.

Iya…” Rini menjawab sekenanya.

Aku pikir sosok Rani ini tipe wanita munafik…” Naah loohh… Si pria ini belum-belum sudah menyerang wanita… Sebel deh… Benar atau salah, aku bela kaum wanita deh… Hahaha….. Sulit memang bersikap objektif bila sebagian dari ‘diri’ kita diusik…

Cobalah seandainya dia tidak kepergok suaminya (atau mantan suaminya..), barangkali di hotel itu dia ‘enjoy’ aja tuh berduaan….. Kan kepalang ketahuan si suami, ya.. belagak alim deh dia…..” Pria ini kembali nyerocos…. Ada benarnya pikir Rini….

Iya… siyy…” Rini masih bingung mengutarakan pendapatnya, walau hati kecilnya ingin mendebat pria ini..

Pagi yang segar ini dia sudah memulai percakapan yang agak ‘berat’ rupanya… Memang kasus seperti ini, yang melibatkan institusi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dua tiga minggu terakhir mendapat porsi lumayan dari media massa. Profesinya sebagai konsultan dikantornya, membuatnya juga tertarik sambil lalu dalam meeting di kantor dalam mengikuti kasus-kasus hukum yang menerpa negeri ini.

Kasus Antasari hanya salah satu dari beberapa kasus beraroma tidak sedap, kasus yang lebih mendapat porsi besar dari masyarakat adalah Kasus Bibit S. Rianto – Chandra Hamzah yang mendapat perlakuan kasar melalui penahanan paksa, dan terbukti adanya dukungan spontan dari para facebookers… Seorang wartawan senior menilai, membludaknya dukungan terhadap kasus penahanan Bibit – Chandra oleh kepolisian menunjukkan nurani rakyat belum mati. “Bagi rakyat, nurani inilah harta yang tersisa,” tutur wartawan ini.

Keangkuhan kekuasaan terlihat dalam masalah Bibit – Chandra juga seperti yang disampaikan seorang petinggi Polri dalam jargon “Cicak lawan Buaya”, meski Kapolri telah meminta maaf agar istilah ini tidak lagi digunakan. Orang kebanyakan sulit menaati larangan ini, karena tidak mungkin melompat ke depan dalam satu kevakuman.

Rakyat kebanyakan begitu mengagungkan KPK, karena dianggap lebih berani, lebih transparan, lebih tegas. Sehingga ketika petinggi institusi ini diperlakukan (dianggap begitu) dengan tidak sepantasnya, rakyat terusik… Mereka bukan lagi melihat sosok individu, tetapi institusinya. Mengingat KPK hampir-hampir tak ada lagi yang membelanya di kalangan institusi negara, nurani rakyatlah kini tumpuan pembelanya.

Hal senada tak urung dialami oleh Ketua Tim 8 (istilah resminya Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum Kasus Chandra Hamzah – Bibit S. Rianto), Adnan Buyung Nasution, terkaget-kaget setelah mendengar “siaran bersejarah” – ketika diperdengarkannya rekaman percakapan – antara Anggodo Widjojo dan lawan bicaranya di Sidang Mahkamah Konstitusi, tanggal 3 November 2009 lalu, sambil berkata di sebuah wawancara dengan wartawan, “Kacau negeri kita, masak ada orang bisa mengatur-atur pejabat penegak hukum kita untuk melakukan “ini itu” semaunya, sambil membicarakan besarnya uang komisi yang akan dibagikan. Mau dibawa kemana negeri ini..?? What’s wrong…??
Celaka memang jika institusi penegak hukum kita berdiri di tempat yang tidak semestinya. Kasus besar lain yang terekspos ke publik, seperti kasus Artalyta Suryani yang masih hangat, memberi tahu kita bahwa lembaga-lembaga penegak hukum berdiri kokoh di atas pihak yang seharusnya menjadi seterunya. Walau bukti-bukti telah dipaparkan, absurditas pembelaaan terhadap pelaku kejahatan terus diekspresikan secara vulgar. Yang salah dapat dikonstruksi sebagai sesuatu yang benar.

Terbuktilah rumor selama ini tentang banyaknya perkara hukum di negeri kita yang bisa diatur, efeknya sungguh dramatis dan banyak pihak hampir tak percaya hal seperti ini bisa terjadi di dalam negara hukum Indonesia.

Temuan Tim 8 tentang kasus Bibit – Chandra tidak dapat diteruskan ke pengadilan, mengingat tidak ditemukannya cukup bukti dan adanya missing links… Rakyat menunggu langkah spektakuler apa yang dapat dilakukan oleh pemimpin di negeri ini, langkah bersejarah yang akan dikenang seterusnya atau sekedar langkah normatif dan business as usual
(Catatan: Artikel ini disusun sebelum pidato Presiden di televisi tentang Kasus Bibit – Chandra… Dimana pidato Presiden pun kemudian mengundang debat panjang di masyarakat…)

Rini melihat ke jalanan, matahari pagi yang ramah, sisa-sisa hujan masih menetes, aroma tanah bercampur aspal terasa di hidungnya…. Sambil menghirup kopinya yang hangat, humm… melirik jamnya, uuhh… kurang sepuluh menit lagi…. Pagi hari yang segar pikirannya sudah melayang kemana-mana, ke kantornya yang sejuk…, ke ‘teman’nya nanti malam…, senyum sendiri… Kamu dimana..??😉
Ingin rasanya menikmati suasana pagi lebih lama, matanya menatap lawan bicaranya. Pria ini rupanya boleh juga apresiasinya…, dia baru ingat kalau pria ini berkantor di lantai yang sama….. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya ke sesuatu yang lebih menyenangkan dari pada berita-berita itu…

Dengan sedikit kekhawatiran, mengingat berita dan kasus seperti ini terbayangkan repetisi peristiwa reformasi tahun 1998, gelagatnya sudah ada… Pandangannya mengedari seluruh bangunan lobby. Menyusuri sudut demi sudut. Dia hanya menghela nafas.. cuaca mulai bersahabat, sambil mengucapkan permisi kepada pria ini, dia segera bergegas berlari menenteng tas ke gedung kantornya… Memasuki ruangan lobby kantor dan segera menuju lift…. Lantai 23, karyawan dari berbagai perusahaan lain pun sudah menunggu di depan pintu, dan seperti kerbau dicocok hidung bersamaan memasuki ruangan lift ketika pintu terbuka, aroma parfum beraneka merek beradu di dalamnya, sampai sulit bernafas…. Hufffftt…

Dahsyaatt… Hihihi…..

Jakarta, 13 November 2009
————————————-

(Dari berbagai sumber)

About -dN5
Here I am........

12 Responses to Nurani di Musim Hujan

  1. Pingback: Pejabat Tinggi Terpilih « Stories From The Road… SFTR

  2. Pingback: Sajak WS Rendra « Stories From The Road… SFTR

  3. deltapapa says:

    cara penuturanya bagus banget. saya gak bisa tuh yang begini.

    • -dN5 says:

      Makasih kawan…. Biar yg baca nggak kebawa serius aja….🙂
      ..ntar ‘bLog walking’ ke tempatnya yaaa….
      Salam…!

  4. nez says:

    Keren tulisannya…. Suka….
    Apakah sudah begitu carut-marutnya negeri kita??

  5. lin says:

    keadilan yang mahal….😦

  6. Pingback: Gempa Haiti… Apakah Kita akan Membantu…?? « Stories From The Road… SFTR

  7. jun says:

    hebat euy cerita’y…..

  8. Pingback: Susno Duadji Didukung Para ‘Hacker’… Situs-situs MuLai di’hack’… « Stories From The Road… SFTR

  9. Pingback: Luna Maya Tetap Cinta Nazril “Ariel Peterpan” Irham… « Stories From The Road… SFTR

  10. Pingback: Demo 2010 2010… Stop Pencitraan! « Stories From The Road… SFTR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: