Natal adalah Cerita Nakal

By Marko Mahin

Pengutusan seorang bayi mungil yang ringkih untuk menyelamatkan dunia merupakan cerita utama Natal. Narasi ini senantiasa berdenyut hidup pada bulan terakhir tahun Masehi. Ia bertutur dan mengalirkan semangat bahwa dunia ini tidak boleh tumpas musnah oleh kekumuhan dosa.

Tetapi, kenapa seorang bayi lemah tanpa daya? Kenapa bukan seorang panglima perang yang kuat dan gagah perkasa? Kenapa bukan seorang politisi yang pandai bicara? Kenapa bukan akademisi atau cendekiawan yang bijaksana? Paling tidak, seorang aktivis yang penuh dengan daya dan dinamika?


Natal adalah cerita nakal. Sejak awal dituturkan, ia menggugat kemapanan berpikir kita. Maria perawan desa mengandung oleh Kekudusan. Kemudian melahirkan Yesus Kristus yang konon akan menjadi Penebus.

Ia dilahirkan bukan di tempat praktik bidan atau rumah sakit bersalin, tetapi di kandang domba. Kemudian ia menjadi tukang kayu. Apakah dia mau menyelamatkan dunia dengan gergaji, palu, dan paku?

Tak dapat disanggah, terlalu banyak manusia jelata di sekitar kita yang tidak berdaya saat berhadapan dengan penguasa, pemodal, pengusaha, polisi, hakim, atau jaksa. Mereka terpental saat mencoba berlomba dengan ekonomi yang melaju gila.

Harga barang yang membumbung tinggi memaksa mereka tinggal dalam ceruk kehidupan yang hina-dina. Berteman dengan penderitaan, kesakitan, dan kekalahan. Dosa-dosa sosial, politik, ekonomi, dan budaya membuat kehidupan mereka dekil, suram, dan kelam.

Dalam keperihan hidup yang nista, cerita Natal menjadi cerita nakal. Cerita tentang Tuhan Yang Maha Mulia, yang berkenosis atau mengosongkan diri menjadi serupa dengan hamba sahaya.

Ia berpihak pada kaum jelata, budak belian yang hina-dina. Dalam sosok seorang bayi, Ia mengkritik para pemegang kuasa yang dengan rakus melipatgandakan nafsu pemangsanya. Kandang, palungan, jerami kering, kain lampin, gembala, tukang nujum dari Timur (orang majus) adalah simbol-simbol rakyat yang dipakai-Nya.

Ia hadir bersama dengan kekurangan dan keterbatasan rakyat jelata. Sedangkan istana dan tentara adalah simbol Herodes, kaisar kejam yang pemarah dan jauh dari rakyat jelata…

Pada masa kini, simbol-simbol perlawanan itu muncul dalam warna hijau (green) yang beroposisi dengan warna kelabu atau kelam. Bukan perlawanan cengeng, tetapi perlawanan berdarah.

Gergaji gemeretak ketika dipakai memotong kayu salib-Nya, palu berdentam saat dipakai memukul paku untuk menghunjam daging kaki dan tangan- Nya. Darah segar berwarna merah pun mengalir. Inilah merah (red) simbol pengorbanan sekaligus perlawanan.

Jadi, sejatinya hijau dan merah Natal bukanlah warna-warna cantik nan romantis, tetapi warna subversif, warna perlawanan atas kekumuhan dan kedekilan dosa.

Hijau dan merah Natal adalah warna harapan bagi kaum yang lemah, tak berdaya dan tertindas, kesepian, dan merasa dirinya hampa. Warna kehidupan bagi mereka berbeban berat. Semangat yang dilambangkan dengan lilin menyala, yang rela hancur luluh untuk menghadirkan terang dan kehangatan

Selamat Hari Natal – bagi yang Merayakannya….. Salam dalam Berkat dan Damai…..

23 Desember 2009
———————————–

Marko Mahin. Antropolog dan Teolog.

(Sumber: Kompas Cetak)

Artikel terkait kLik disini…

About -dN5
Here I am........

14 Responses to Natal adalah Cerita Nakal

  1. Pingback: Tempat-tempat Asyik di Dunia yang Ramai saat NataL… « Hari-hariku setelah kemarin…..

  2. Pingback: SeLamat Hari Raya Idul Fitri… « Stories From The Road… SFTR

  3. lin says:

    memang deh….. isu yang relevan hingga saat ini….
    perjuangan bagi kaum papa, tertindas, lemah……
    siipp…
    ‘met NataL yaa…..

  4. nez says:

    ‘met NaTaL yaa…..
    indahnya….. damai seLaLu…

  5. rini says:

    merry christmas buat yg ngerayain…..
    salam…

  6. Pingback: 2010 « Stories From The Road… SFTR

  7. bambang says:

    kisah inspiratif…. like it…. ‘met natal y..

  8. Pingback: Merry Christmas II You… « Hari-hariku setelah kemarin…..

  9. Pingback: Natal itu Tiba….. « Stories From The Road… SFTR

  10. Pingback: 2011, Resolusi di awal tahun… « Stories From The Road… SFTR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: