Terorisme… Masih Ada Rupanya…

Menjelang akan berakhirnya Sidang Paripurna DPR terhadap kasus Bank Century di awal bulan Maret kemarin, saat perhatian khalayak ramai terkonsentrasi ke hasil sidang tersebut melalui layar kaca, televisi berita di Jakarta menyiarkan “Breaking News” tentang aktivitas terorisme di Aceh, dimana seperti diberitakan saat itu terjadi tembak-menembak antara anggota Brimob beserta Densus 88 dengan para teroris disana.. Dan korban pun berjatuhan…

Dan hari-hari berikut di sela-sela mulai selesainya riuh gemuruh berita seputar kasus Bank Century, berita-berita di layar kaca mulai beralih secara perlahan ke berita tentang peristiwa teror ini…

Demikian seterusnya, berita seputar pengepungan di Pamulang, kemudian beralih kembali ke Aceh, bolak-balik, kemudian ke Mindanao, Filipina dan seterusnya… Hingga sampai tertembaknya Dulmatin alias Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Pitono bersama dua pengawalnya Ridwan dan Hasan Nour saat penyergapan Densus 88 di Pamulang beberapa waktu lalu, yang diyakini sebagai salah satu teroris yang paling dicari oleh Polri…


Ada hal menarik diamati yaitu tanggapan sebagian masyarakat seputar berita teror seperti ini, khususnya bagi warga Pamulang, seperti yang bisa dilihat pada status update di situs pertemanan Facebook, hahaaa…. Mereka malah bangga loohh… Waahh…. Pamulang sekarang jadi terkenal dan malahan sampai ke luar negeri pemberitaannya….. Yaa… Memang itu sisi lain dari peristiwa ini, sisi sosial yang dilihat oleh masyarakat terhadap terjadinya suatu peristiwa yang mendapat pemberitaan besar-besaran dari media massa…

Persoalannya mengapa terorisme belum berakhir juga? Dimana letak permasalahannya? Sebagian masyarakat mungkin berpikir dengan kematian tokoh teroris asal Malaysia, Noordin M Top, berarti reduplah kegiatan seputar terorisme ini…

Persoalan terorisme di Indonesia amat terkait dengan ideologi yang dianut pelakunya. Pemberantasan melalui pendekatan legal formal, seperti operasi polisi, menurut beberapa tokoh tidak akan efektif. Yang diharapkan adalah intervensi khusus dari negara, karena faham penggunaan kekerasan oleh kelompok radikal dapat diperlunak…

Pendapat dari Mardigu Wowiek Prasantyo – seorang pengamat terorisme di sebuah acara talk show televisi, 12 Maret 2010 di TVOne kemarin malam menyatakan bahwa dari hasil penelitiannya sejak 4 tahun lalu, bahwa yang sulit dihilangkan dari pelaku teror ini adalah doktrin yang diyakini oleh mereka sesuai hasil wawancaranya dengan banyak pelaku… Keyakinan mereka bahwa penyebab semua ini adalah ketidakadilan yang dirasakan oleh mayoritas ummat Islam (bukan hanya di Indonesia), yaitu perlakuan stigma soal Barat- dunia Islam atau Amerika Serikat yang menindas umat Islam meskipun itu secara empirik terjadi di negeri lain, bukan Indonesia. Dan khususnya untuk Indonesia, mereka yakin bahwa persoalan bangsa ini bisa diselesaikan dengan cara menegakkan syariat Islam… Paling tidak hal ini sudah menjadi suatu doktrin dan ideologi…

Hal senada disampaikan seperti yang dikutip dari kompas cetak, 12 Maret 2010, Sarlito Wirawan Sarwono, dosen Psikologi Universitas Indonesia, ideologi yang dianut mereka sudah terbilang ”harga mati” seperti yang dianut para tahanan yang tergolong pimpinan dalam gerakan mereka, contohnya Abu Dujana.

Pendapat dari Buya Syafii Ma’arif terkait hal ini adalah mengapa terorisme ini tidak juga meredup tentu ada akar permasalahannya, yaitu ketidakadilan dan kemiskinan. Walau kelompok ini sangat sedikit dan makin terdesak, lebih jauh sambil memuji prestasi yang dilakukan oleh tim Densus 88, beliau mengatakan, ”Ideologi sesat yang dianut anak-anak muda pelaku teror itu memang sulit diberantas. Karena itu, penumpasannya tidak cukup sekadar memburu dan menangkap, tetapi juga harus berani melihat dan menuntaskan akar masalah terorisme di Indonesia.

Terorisme atau demikian sebutan bagi mereka tentu bukan jalan populer yang harus dipilih, di saat negeri kita terus berjuang dan bersaing untuk menjadi lebih kuat dan setara dengan bangsa-bangsa lain, tentu melalui kontribusi masing-masing di bidangnya. Di lain pihak ada semangat lain yang diyakini dapat memberi alternatif solusi bagi penyelesaian semua masalah kehidupan bangsa, yang amat disayangkan dilakukan dengan meminta korban justru di tanah Indonesia sendiri…

(Berbagai sumber, cetak.kompas.com, Foto Kompas/Kristianto Purnomo)

About -dN5
Here I am........

7 Responses to Terorisme… Masih Ada Rupanya…

  1. YITNO says:

    terus jalan keluar nya gmn buat teroris biar berhenti jd teroris?

  2. mushodiq says:

    Saya setuju dengan kesimpulan dari bpk. Syafi’i dan Mardigu, ketidakadilan, standar ganda dan ketidaktegasan serta bodohnya negara-negara yg dikatakan Arab….. Kok mau diadu domba dan manut apa yg dikatakan Barat…

    Selanjutnya ketimpangan dari sisi sosial dan ekonomi sebagai penyubur, saya berharap cobalah dari lingkup kecil dulu kita hilangkan ketidakadilan dan ketimpangan dan teruskan wujud solidaritas kita pada Palestine……..

  3. kentanggoreng says:

    Di saat masyarakat terarah pada kasus Century….., mengapa kok pemberitaan yg dibesar2kan adalah terorisme… Apalagi di saat yg sama akan ada kunjungan OBAMA… Jangan buru2 menyalahkan pelaku terorisme, secara fisik memang kalau dikatakan jihad yg paling dibutuhkan berjihad adalah Afghanistan, Irak, Palestina….. Kalau Indonesia saya kira ga perlu…
    Ayolah para pemilik stasiun televisi, radio, media cetak… Mari kita kawal kasus Bank Century, kalau memang negara ga dirugikan ya dijelaskan secara gamblang kemana uang triyulan tsb….. Pada kami yakin pemimpin kami orang2 pintar, bukan mintari orang…

    Kami selalu berdoa semoga pemimpin kami benar2 orang2 jujur…..

  4. jun says:

    Aduuhhh….. Banyaknya masalah di negeri kita yaa……..

  5. yitno says:

    mudah2an kita selalu bersama,,,
    bersatu kita teguh bercerai kita runtuh…………

  6. lie says:

    Tegakkan supremasi hukum… Negara tidak boleh mengembangbiakkan kemaksiatan, menjadi centeng lokalisasi, pejabat bergaya mewah dari hasil mencuri dan merampok uang rakyat.
    Tidak bisa membedakan mana baik mana buruk… Tidak punya sikap, tidak punya karakter. Indonesia bukan hanya Jawa bung…

    Terbukti orang Jawa macam SBY memerintah lamban kayak keong…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: