Aksi Mahasiswa Tidak Simpatik

By Haryo Damardono

11 Tahun Tragedi TrisaktiRabu ini, 12 Mei, Tragedi Trisakti diperingati. Memori saya pun terseret mengenang peristiwa itu, mengenang pula beberapa demo susulan. Tahun itu, saya juga masih duduk di bangku kuliah. Beberapa teman seangkatan di kampus Depok juga tertembak meski oleh peluru karet, meski pada hari berbeda. Masih di tahun itu, saya juga pernah menjadi relawan di RSCM menjaga mahasiswa korban.

Tadi siang, Jakarta pun diramaikan oleh demonstrasi Tragedi Trisakti. Namun, pikiran saya malam ini disibukkan oleh permenungan-permenungan tentang demonstrasi, bukan mengenai materi demonstrasi. Mengapa? Karena aksi demonstrasi mahasiswa itu, terutama oleh beberapa oknum mahasiswa, sungguh tidak simpatik.


Tragedi saya pertama hari ini, adalah ketika hendak menuju Kementerian Perhubungan. Tadi siang, saya bertemu Agus Imansyah, pentolan KRL Mania, di Pacific Place untuk bercakap-cakap mengenai kereta Jabodetabek dan problematika transportasi di Jakarta. Seusai pertemuan, saya memutuskan untuk naik busway ke Jalan Merdeka Barat, ke Gedung Kemenhub.

Akan tetapi, sesampainya di Thamrin, lalu lintas nyaris tak bergerak. Kira-kira ada enam busway terjebak dalam kemacetan. Ternyata, mahasiswa-mahasiswa bermotor memblokir lalu lintas di dekat Bundaran Air Mancur. Jalur busway di Merdeka Barat tak lagi dapat dilintasi, dan busway dialihkan melalui Jalan Abdul Muis.

Abdul Muis adalah jalan kecil. Tak pelak, lalu lintas menjadi kacau-balau karena Merdeka Barat praktis ditutup. Seorang ibu di samping saya bergumam, kenapa sih jalur busway harus ditutup? Kita jadi menderita. Kenapa sih? Saya tidak menjawab. Saya tidak tahu.

Terlintas di benak saya saat itu, bila tujuannya ingin demonstrasi di depan Istana Negara, mengapa mahasiswa tidak naik taksi secara terpisah saja? Atau, mengapa tidak menggunakan mobil-mobil pemberian orang tua mereka, yang diparkir di kampus-kampus?

Mengapa harus konvoi ramai-ramai, menutup arus kendaraan, dan menyengsarakan warga dengan kemacetan yang ditimbulkannya? Bukan simpati yang mereka dapatkan, tapi sebaliknya, umpatan warga di tepi jalan. Tidakkah mata dan hati mereka peka melihatnya? Saya sungguh tidak tahu.

Tragedi saya kedua hari ini adalah ketika hendak pulang. Lalu lintas macet total karena, lagi-lagi, mahasiswa menutup arus dari Jalan Cideng. Mengapa? Karena belasan minibus hendak lewat mengangkut mahasiswa berjaket biru itu pulang. Belasan minibus itu menerobos lampur merah. Tapi yang lebih menakjubkan adalah, mahasiswa melaju di jalur busway Harmoni-Kalideres.

Kenangan Tragedi TrisaktiDalam hati saya berkata, bukankah beberapa hari lalu warga Ibu Kota ini berlomba-lomba menghujat seorang menteri yang melintas di jalur busway? Jadi, mengapa kini tak ada seorang pun yang menghujat para mahasiswa itu? Mengapa tidak ada media online yang ramai-ramai memberitakan pelanggaran ini? Apakah mahasiswa boleh melaju di jalur busway? Kebal hukumkah mereka? Bila polisi berani mengatakan tak pernah mengizinkan menteri lewat, masak takut dengan mahasiswa?

Bila begitu, alangkah hebatnya mahasiswa-mahasiswa itu. Dan mungkin, kita menghakimi menteri itu jangan-jangan bukan karena tindakan melawan hukum yang dilakukannya dengan melintas di jalur busway, sebaliknya hanya karena dia pejabat maka dihakimi. Lantas akan adakah sanksi sosial buat mahasiswa di jalur busway? Lagi-lagi, saya tidak tahu.

Beberapa menit lalu saya menelepon Rudy Thehamihardja, seorang pengamat transportasi, untuk berkeluh kesah. Kata-katanya masih mengiang di telinga saya. Apakah ada kendaraan umum dalam konvoi demonstrasi itu? Ada kok. “Lantas, apa mereka pikir berhak begitu saja menggunakan kendaraan umum di jam-jam petang, saat warga kesulitan angkutan umum?,” kata Rudy.

Ucapan Rudy membuat saya berpikir keras. Dia berkata benar. Kita sering kali lupa bahwa di tengah kelangkaan angkutan umum di Ibu Kota ini, para demonstran kerap kali merebut hak rakyat untuk pulang dengan nyaman lantaran tiada angkutan umum di rute-rute tertentu! Demonstrasi sesungguhnya adalah hak tiap warga, tetapi jangan sampai merebut hak warga lainnya atas pelayanan transportasi.

Dan, apakah mahasiswa tadi memikirkan hal ini? Apakah mereka sadar bahwa penumpukan warga di halte-halte bus mungkin ada korelasinya dengan langkanya angkutan umum karena mereka gunakan untuk konvoi. Apakah mahasiswa berpikir? Apakah mereka sadar? Saya benar-benar tidak tahu.

Paling memprihatinkan buat saya adalah ketika dua kendaraan dari konvoi kendaraan para demonstran mengantre, dan saya mendengar beberapa mahasiswa berjaket biru bernyanyi, “Jakarta macet… Jakarta macet… Ja… karta macet.” Nyanyian itu didengar puluhan pengendara motor yang terjebak dan belasan pengemudi mobil. Jadi, mungkinkah aksi mereka menimbulkan simpati. Saya sudah bilang berkali-kali, saya tidak tahu!

Yang saya tahu karena saya melihat, saya mendengar, dan saya merasakan bahwasanya aksi mereka makin memacetkan Ibu Kota ini, yang sebenarnya tanpa aksi mereka pun sudah macet.

Sebenarnya, saya sungguh menaruh hati untuk para korban tragedi Trisaksi. Namun, aksi mahasiswa hari ini menodai simpati saya, simpati siapa pun juga. Bila mereka gentleman, mungkin esok hari kita akan melihat surat pembaca yang intinya adalah permintaan maaf mahasiswa kepada rakyat atas kemacetan yang mereka timbulkan.

Akankah mereka gentlemen? Saya sungguh-sungguh tidak tahu….

Jakarta, 12 Mei 2010
————————————————–

Haryo Damardono. Jurnalis Harian KOMPAS. Artikel ini diambil dari tuLisannya di situs “kompas online“, 12 Mei 2010, jam 21:32 wib.

(Sumber kompas online, Foto google.com, Kompas/Inggried Dwi Wedhaswary)

About -dN5
Here I am........

20 Responses to Aksi Mahasiswa Tidak Simpatik

  1. Pingback: Tweets that mention Aksi Mahasiswa Tidak Simpatik « Stories From The Road… SFTR -- Topsy.com

  2. Shita says:

    Berjuang atas sebuah keyakinan boleh saja di negara demokrasi… Tetapi bila mengabaikan kesantunan… Lebih baik kembali saja ke kampus deh….

    Negeri ini lebih butuh SDM berkualitas ketimbang tukang berkoar, terlepas resiko suatu perjuangan….

    • alfin says:

      lw bisa ngomong gitu karna lw ga ngerasa, bahwa 12 tahun yang lalu abang-abang kita mati tertembak dan terinjak karena mengusung nama masyarakat.
      Tapi mengapa masyarakat kini hanya bisa mencemooh bukan membantu sama kaya lw,.. Ga usah sembarang ngomong kalau kalian tak tau apa2 dan hanya mencari nama di belakang…

      SALAM SETENGAH MERDEKA…!!!!
      Alfian, Fakultas Hukum ’05

      • -dN5 says:

        Btw, gw juga berjuang tahun 1978 – 80 dan masuk bui – saat rezim Soeharto masih galak2nya…… Perjuangan kita masing-masing tentu memiliki sejarah pahitnya sendiri…!

        Abaikan kritikan masyarakat dan diterima dengan lapang dada, itu tanda mereka kritis dan mempunyai perhatian… Untuk kebaikan Indonesia tidak perlu pamrih, rakyat menunggu dukungan lain dari seluruh elemen cendekiawan Indonesia…!

        Salam juga….!!!

    • Goen At says:

      Stlah mmbaca ini sy trsnyum dgn hrpan aksi ini adlah slah stu aspirsi mahsiswa yg notaben bnr2 mnuntut pmrintah agr bs mmhami dan mlhat ap yg sbnrny trjadi di ngra ini…

      Mhsiswa sdh bosan dgn tndk dn tnggp pmrnth yg lmban dlm mnylsaikan mslah..!! klau mhsswa di nilai arogan srt mmbuat krcuhan dan kmctan di jalan itu smua krena smata luapan emosi pr mhsswa yg di tuntut dgn prkmbgn isu2 trkini…!!!

      Krna hnya mhsswa dgn jmlah pluhan ribu yg bs mnggyangkan pmrintah jk tdk mmpu mgtsi msalah negara…ingat zaman Soehrto dgn jmlh rtusan ribu org mnduduki DPR hgga akhirny Pnykit2 ngara pd ms lalu terbngkar dan al hasil pmrnthanny pun ikt tmbang dgn aksi2 yg dlkkkan mhasiswa…!!!

      HIDUP MAHASISWA !!!!

      Goenawan Aditama,

      * BEM UNIV SATYAGAMA 2010
      Dept. INFOKOM

      • Mika says:

        mahasiswa sekarang bagaikan seorang preman jalan….

        salam dulu aahhh…..!

        Mika Junianto, STMIK Satyagama 03

  3. emi says:

    udah sekolah aja deh…. lagian sm politikus Senayan, cuman dimanfaatin doang…..

  4. rohmat says:

    capeee deehhh……

  5. AF says:

    SURUH NYONTOH MAHASISWA YG KONTES ROBOT DI AMRIK ITU, APA NGAK MALU DIA…..

  6. Naga212Geni says:

    Info yang menarik nih Bos… kLo bisa di lengkapi infonya, akan lebih bagus lagi… Di tunggu kunjungan balasannya ya… Mo melanjutkan blogwalking lagi… Salam Hangat…..!

    • -dN5 says:

      Terimakasih kunjungannya….. Salam juga🙂

      • alfin says:

        jangan sembarang bikin-bikin di web dong kalo ga tau makna sebenernya,.,.,.

        SALAM SETENGAH MERDEKA !!!!!!!!

        Alfian, FH-Trisakti,..

      • -dN5 says:

        Artikel ini re-bLog ulasan langsung di lapangan oleh jurnaLis “Kompas” – Haryo Damardono – yang dituangkan di situs portal http://www.kompas.com
        Otokritik dalam perjuangan itu (justru) diperlukan, sehingga bisa mengukur sampai dimana semua berjalan…

        Tulisan jurnalis “Kompas” ini tentu dapat menjadi potret bersama yang mewakili perasaan masyarakat di lokasi saat itu, alam kita hasil reformasi memang membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa saja memberi kontribusi sesuai bidangnya… Demokrasi memberi hak untuk itu, semua menjadikan negeri ini lebih baik dimasanya… Tak apa, kita semua masih bertumbuh…

        Salam setengah merdeka juga….!!!

        Donald, FT-ITB 78

  7. kenapa si kalo untuk memperingati sebuah perjuangan yg memang untuk kepentingan bangsa /masyarakat harus turun ke jalan….????????
    apa sudah tidak ada tempat lain lagi…??
    di negara ini juga banyak pahlawan yg gugur sama2 berjuang untuk bangsa dan negara..untuk mengenang dan memperingatinya juga tidak seperti itu…
    bisa dilakukan dg upacara atau renungan di tempat masing2 instansi/kampus..sehingga tidak menimbulkan keresahan/ ketidak-nyamanan di lingkungan sekitar kita…

    SALAM DAMAI SELALU..

    Setya, FTI IBEK

  8. arief says:

    kami sebagai sesama mahasiswa pasti selalu mendukung teman” kita
    hiduppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppppp
    mahasiswaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  9. mechin says:

    kLo aku dukung gerakan mahasiswa dan demo siy oke-oke saja…….. tapi jangan merugikan masyarakat jugaaaa…….

    abisss gw ikutan maceeetttt deehhh……. hihihi…….

    aku teteeeppp simpati buat teman2 mahasiswa………………..

    salam cantik….!!

    Shanty Mechin, FE Manajemen UTIRA IBEK 2010
    Tomang Mandala

  10. winner says:

    Yah..kadang kesadaran seseorang akan tiba jika waktunya telah berlalu..

    Mahasiswa dengan semangat mudanya sering melakukan aksi atas nama Rakyat menyuarakan keluh kesah apa yang dirasakan masyarakat banyak..

    Salut memang, tp ada baiknya jika membatasi sebaik mungkin agar aksi yg mereka lakukan tidak mengganggu kepentingan masyarakat lainnya jg..

    Ketika gw jd Mahasiswa selalu teriak “HIDUP MAHASISWA…!!”(Itu waktu ikut aksi).. Tp ketika gw kembali menjadi masyarakat seperti umumnya, ketika kita sedang diburu waktu krn ada kepentingan yg ga bs ditunda dan kita terjebak didalam macetnya jalan krn ada aksi Mahasiswa.., apa yg kita rasakan..?? Kita ga akan teriak hidup Mahasiswa, tetapi sumpah serapah dan umpatan yang diberikan kemereka.. Jd sebaiknya perlu sharing pengalaman antara Mahasiswa dengan alumni yg telah kembali mjd masyarakat biasa.. tanyakan apa yg mereka rasakan setelah mjd masyarakat biasa dan berada dalam situasi yg digambarkan td..

    Jd bagi gw pribadi aksi Mahasiswa dan semangatnya itu harus tetap ditanamkan dihati mrk, tp sebaik mungkin tinggalkan aksi yg bisa menggangu aktivitas masyarakat yg lainnya karena kalian nantinya akan kembali mjd masyarakat pd umumnya lg.. Kalian akan pnya penilaian sendiri bagaimana ketika mjd masyarakat dan bgmn ketika mjd Mahasiswa..

    Dan Mahasiswa pasti akan selalu memiliki citra baik di hati masyarakat, pun begitu masyarakat akan selalu mendukung aksi kalian…..

    Wink, Alumni – STMIK Satyagama, 2002

  11. Dwi says:

    Sayang negri ini identik dg kekerasan & anarkhis. hanya utk men-dongkrak popularitas, posisi jabatan & jg membela kelompok2 tertentu……….

    Maka: skenario apa pun bisa dibuat a/t direkayasa politik entah apa namanya. & sandiwara tsb berputar-2x terus menerus, hinga menghabiskan waktu yg lama, akibatnya berdampak pd melemahnya perekonomian negri serta ber-imbas pd bid.sektor lainnya dan mengakibatkan keterpurukan \keterbelakangan SDM…..

    Dwi Subagio, FTI UTIRA – IBEK 2009
    – Karyawan DamKar DKI

  12. Rohmat says:

    Aahh…. Ga ada satu komponen bangsa apa pun yang meng-kLaim paling pahlawan……. Lebih baik bersikap kepala dingin, negeri ini maju bila semua pihak lapang dada mengakui pada titik mana ia berbuat salah…..

    Mahasiswa juga tak lepas dari kesalahan, demikian juga pemerintah……. Jadi tak perlu berkilah – salah ya salah…………
    Salam !

    Rohmat, FE UI 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: