Don’t Cry for Me Argentina… Tuhan Menjauhimu, Maradona!

Madonna - Don't Cry for Me ArgentinaOohhh… Aku terlambat sampai di rumah malam ini, malam minggu yang dihiasi hujan gede… Kenapa terburu-buru untuk pulang ke rumah, bukankah ini malam yang menyenangkan minum kopi bersama-sama dengan teman-teman…

Heiii abaikan saja dulu hal itu…. Tentu. Jangan lewatkan pertandingan babak perempat final Piala Dunia 2010 ini, selain pertandingan malam sebelumnya, malam ini Argentina bertemu Jerman. Dua tim yang mempunyai kelas permainan pada level tinggi di dunia saat ini, selain Brasil, Spanyol dan Belanda atau Chile tentunya…

Sambil merenung menatap hujan yang begitu deras, banjir lagi Jakarta ini… It’s too bad… Okelah, saat hujan mereda segeralah pulang… Masih ada sekitar 30 menit sebelum kick-off, aku segera mengganti baju, membersihkan badan dan melongok ke meja makan… Ada apa disana? Aaahh… Nikmati saja apa yang ada. Humm

Nyalakan pesawat televisi, waahh… Terlambat yang kedua bagiku, pertandingan sudah dimulai, lebih terkejut lagi… Jerman sudah unggul 1 – 0 melalui gol Thomas Mueller pada menit ketiga.

Ini tragedi. Aku menyukai tim “Tango” Argentina, sebenarnya lebih kepada kecintaan pada masa lalu, saat Diego Maradona masih menjadi pemain, sama halnya kecintaanku pada tim “Samba” Brasil lebih kepada masa tim tersebut dihuni oleh pemain sekelas Ronaldo, Ronaldinho dan Rivaldo atau saat ada Romario disana… Di masa itu siapa yang tak mengakui kehebatan mereka di tim nasionalnya masing-masing serta sumbangan mereka bagi masyarakat penggemar sepakbola indah…


Mengapa tragedi. Setelah menangisi kekalahan tim nasional Brasil dari Belanda kemarin, tampaknya tim “Tangobakal kerepotan membongkar kokohnya tembok pertahanan “Der Panzer” Jerman yang digalang oleh central back Arne Friedrich dan Per Mertesacker… Kembali persoalan psikologi pemain Argentina terjadi disini, setelah ketinggalan mereka menjadi emosional. Kehilangan konsentrasi untuk bermain sebagai team, yang justru dilakukan dengan efektif oleh tim Jerman.

Oohhh….. Argentina. Aku jadi teringat dengan lagu terkenal tahun 1976 yang dinyanyikan oleh Julie Covington dalam sebuah opera musik “Evita“, “Don’t Cry for Me Argentina“. Lagu ciptaan Andrew Lloyd Webber dengan lirik disusun oleh Tim Rice. Lagu yang diilhami oleh karakter María Eva Duarte de Perón (lebih dikenal dengan nama Evita) atau Eva Perón – istri kedua Presiden Argentina Juan Domingo Perón dan Ibu Negara Argentina sejak 1946 hingga wafatnya pada 1952 – yang tampil di balkon kepresidenan Argentina, Casa Rosada menyapa pendukungnya untuk menyatakan penyesalan dalam kiprahnya di dunia politik Argentina yang penuh intrik, karena pengaruhnya yang amat besar dalam penciptaan kultus individu bagi suaminya presiden saat itu yang justru menjadi bumerang.

Dua puluh tahun kemudian Madonna membintangi opera musik ini sekaligus menyanyikannya kembali. Hebatnya opera dan lagu itu kembali terkenal, apa yang membuat itu? Rupanya tangisan dan kesedihan bagi Argentina yang selalu sarat masalah dalam era kepemimpinan presiden sesudahnya tak kunjung selesai, sehingga Madonna berhasil mempopulerkan kembali terkait relevansi masalah sosial politik yang mengiringinya.

Sepak bolalah yang menjadi exit bagi rakyat Argentina. Masa bodoh dengan gonjang-ganjing dunia politik, yang penting tim sepak bola mereka harus menang dan juara.

MaradonaTampaknya rakyat Argentina menggantungkan harapannya kepada Maradona yang saat sebagai pemain berhasil membawa tim nasional mereka menjadi juara yang kedua kalinya tahun 1986 ketika mengalahkan Jerman 3 – 2 di final Piala Dunia 1986 Mexico. Kini tampil sebagai pelatih dan tuah “Hand of God” atau insiden tangan Tuhan yang digunakannya saat membuat gol ke gawang Inggris di semi final diharapkan kembali datang.

Maradona tampak tak memperdulikan banyaknya kritikan dari berbagai pihak, termasuk ketidaklazimannya dalam meracik pemain, pelatih tanpa konsep, tanpa sistem yang jelas, dan hanya mengandalkan kelihaian teknik dari pemain pilihannya.

Benar. Dia beruntung memiliki pemain-pemain kelas dunia, seperti Lionel Messi, Carlos Tevez, Sergio Aguero, dan Gonzalo Higuain yang bermain cemerlang di penyisihan grup. Dia begitu percaya akan penyertaan Tuhan bersama timnya dan menggantungkan nasibnya kepada Sang Khalik yang akan menuntun timnya menuju gelar juara…. Kelihatannya siyy benar dari segi moral…

Saat menanggapi sekelompok penggemarnya yang terlihat khawatir, ia berkata, “Saya bilang kepada mereka untuk tenang. Pada akhirnya, itu soal apakah Tuhan ingin kami ke final, tapi saya tahu apa yang Tuhan inginkan. Kali ini kami tidak perlu Tangan Tuhan karena itu kehendak Tuhan,” ujarnya.

Apa yang terjadi? Laga baru dimulai dan menit ketiga yang menjadi malapetaka. Gol pembuka Jerman seolah ingin memberitahu, “Heiiiiii…. Maradona, berhenti sampai disini saja…! Tuhan sedang menonton pertandingan lain…” Argentina tak bisa menahan serangan kompak Jerman. Argentina bermain secara individual, sementara Jerman menyerang secara berjemaah…

Banyak memang cerita cantik tentang kehebatan Messi dan teman-temannya, apalagi bila melihat gocekan bola dengan teknik individual kelas dunia mereka, tapi kali ini tak kuasa menahan kekompakan dan kerjasama “Der Panzer“. Maradona tampaknya terlalu sibuk disana, sehingga lupa bahwa Tuhan tidak selalu bilang ‘iya’…..

(Berbagai sumber. Foto wikipedia.org, kompas.com/AFP/Pierrre-Philippe Marcou)

About -dN5
Here I am........

5 Responses to Don’t Cry for Me Argentina… Tuhan Menjauhimu, Maradona!

  1. dhedhe says:

    Kali ini kami tidak perlu Tangan Tuhan karena itu kehendak Tuhan,” ujarnya…..Kenapa sich harus bicara spt itu….mungkin kalau tidak bicara spt itu tuhan masih mempertimbangkannya Argentina untuk menang……biar bagaimanapun seorang Diego Maradona orang yg hebat dan aku bangga sama dia….:(

  2. rohmat says:

    ya… ada saatnya kalah dan ada saatnya menang…. Diego is Best deh…..!!

  3. emi says:

    Madonna…. Maradona….. kemiripan yang unik…..😉

  4. Pingback: Auf Wiedersehen… Cukup Sampai Disini Saja, Jerman..! « Stories From The Road… SFTR

  5. Pingback: Fleksiseksual… Apakah ini ‘Tren’ Baru..? « Stories From The Road… SFTR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: