Tiada Profesionalisme

By J E Sahetapy

Cover majalah Tempo edisi "Rekening Gendut Perwira Polisi" Dalam keadaan proses pembusukan hukum yang merajalela seperti sekarang ini di mana ”polisi, jaksa, pengacara, dan hakim berkomplot” (Tempo, 20-6-10), rakyat di akar rumput sebetulnya tidak bisa dibodohi lagi.

Mereka menjadi sinis dan melontarkan komentar yang kalau didengar membuat kuping menjadi merah, dan sungguh menyakitkan.

Para penguasa harus sadar bahwa tidak ada dusta yang bertahan selamanya. Demikian pula bahwa kekuasaan hanya bersifat sementara. Oleh karena itu, karikatur Tempo dengan oknum polisi dan celengan babi dapat dipahami. Sungguh ”absurd” kalau Polri memperkarakan Tempo. Apalagi setelah muncul kasus (-kasus) markus, dan menyimak komentar juru bicara berbintang dari kepolisian. Tampaknya, seperti kaum awam begitu ”bodoh” dan ingin dipintarkan dengan komentar yang sebetulnya ”naif” pula.

Memalukan

Kalau menganalisis dari aspek kriminologi dan atau viktimologi, Hermann Mannheim (1970) Who steal the goose from the common menjadi atau Who steal the common from the goose. Di akar rumput, orang menjadi ”frustrasi” kalau berurusan dengan polisi. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum sendiri minta KPK mengurus mafia Polri (Media Indonesia, 20 Maret 2010). Dalam bahasa Belanda dapat disebut hij heeft geen kaas der van gegeten. Ibarat orang Jawa yang seolah-olah belum pernah makan tempe. Ini suatu ironi yang menyakitkan dan memalukan.


Dalam jajak pendapat Kompas, 30 November 2009, dapat dibaca bahwa rakyat sangat tidak puas 76,2 persen terhadap Polri; idem dito dengan kehakiman, dan 77,3 persen terhadap kejaksaan. Dalam Koran Tempo, 19 Mei 2010, dapat dibaca ”PPATK curiga Puluhan Rekening Polisi”. Ada yang memiliki rekening senilai Rp 95 miliar. Kalau itu benar, boleh tanya: gajinya berapa sih! Tampaknya, Polri kebakaran jenggot sehingga rupanya ”malu” merayakan Hari Bhayangkari dengan cara terbuka (Koran Tempo, 30 Juni 2010).

Polri dewasa ini seperti Dr Jekyll and Mr Hyde. Pada satu pihak ia begitu hebat dalam memberantas terorisme. Acapkali HAM ditelantarkan. Pada pihak lain seperti ragu-ragu mengusut rekening polisi berbintang. Meski sudah dilapori Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) beberapa waktu (baca: tahun 2005) yang lalu, komentar Kabareskrim ”Kapolri Perintahkan Rekening Perwira Ditelusuri” (Koran Tempo, 30-06-10) sungguh mengherankan! Mengapa baru sekarang!

Korpsgeest” di kepolisian begitu kuat dalam keadaan bobrok sehingga setiap hal yang memalukan ditutup rapat-rapat. Bahkan, ada oknum polisi yang jadi whistle blower tidak ditoleransi. Seharusnya yang bersangkutan ikut membersihkan rumah Polri sampai bersih dari tikus-tikus tengik, baru yang bersangkutan ditindak. Ironinya dicari-cari kesalahan beberapa tahun yang lalu. Anehnya, kenapa sekarang baru boroknya diungkit?

Jadi sejak lama boroknya dibiarkan meski yang bersangkutan dapat promosi atau dapat jabatan tinggi di Polri. Ini aneh! Jadi boroknya disimpan dulu jadi tongkat pemukul. Apa ini fair? Jelas tidak.

Dengan keadaan seperti itu, Undang-undang PPATK perlu direvisi. Dengan perkataan lain, kalau PPATK temui boroknya oknum Polri, laporan PPATK tersebut jangan diserahkan kepada penyidik, tetapi diteruskan ke KPK. Kalau diserahkan ke penyidik, ada kemungkinan dipetieskan. Lalu siapa mea culpa?

Artikel Kompas Cetak, 6 Juli 2010
————————————————————–

J E Sahetapy. Guru Besar Emeritus.

(Foto kompas.com/AFP)

Artikel Terkait:
1. Tempo Tak Samakan Polisi dan Babi
2. Polri Dewasalah, Jangan Takut Kritikan!
3. Rekening Gendut dari Pengusaha?
4. Memangnya Polisi Punya Nama Baik?
5. Ariel Sangat Cepat, Rekening Gendut Lama
6. Anis: ‘Cover’ Tempo Bentuk Kreativitas

About -dN5
Here I am........

One Response to Tiada Profesionalisme

  1. Pingback: Segitunya….. Masak “Burung” Ariel Juga Dipelototin… « Stories From The Road… SFTR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: