Pemerintah, Akuilah!

By Tjipta Lesmana

kebutuhan pokokMenurut hemat kita, pemerintah gagal melakukan antisipasi. Mestinya, para menteri terkait sudah bisa memprediksi kenaikan harga ketika pemerintah berencana menaikkan TDL. Pengalaman puluhan tahun menunjukkan bahwa setiap kali pemerintah hendak menaikkan harga BBM atau TDL.

Salah satu kelemahan pejabat pemerintah kita adalah tidak pernah mau mengakui kelemahan/kekurangan dan kegagalan dalam menjalankan tugasnya. Jika mendapat kritik atau penilaian negatif dari publik, pejabat kita selalu mengelak dan mencari kambing hitam. Scape-goat policy paling populer di kalangan pejabat Indonesia. Maka, di seantero Nusantara, kambing hitam paling laris di pasar.

Jauh sebelum Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) mengumumkan hasil evaluasinya terhadap kinerja Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, media massa, khususnya televisi, sebenarnya sudah mempublikasikan kenaikan harga-harga bahan pokok. Telor, daging, susu, cabe, bawang, semua bergerak substansial harganya. Namun, tidak ada tanggapan dari pemerintah. Nah, ini pula karakteristik lain dari petinggi pemerintah kita: selalu punya prasangka negatif terhadap laporan media massa. Setelah pemerintah mengumumkan kenaikan TDL (tarif dasar listrik) dan harga kebutuhan pangan terus merangkak lagi, baru ada tanggapan dari sementara pejabat terkait, khususnya Menteri Perdagangan.


Yang disayangkan, ya itu, tanggapannya selalu bersifat reaktif. Dalam arti, mereka tidak mau disalahkan. Dalam persoalan kenaikan harga, yang dikambinghitamkan adalah cuaca yang tidak menentu. Karena musim hujan berkepanjangan, banyak panen produk pertanian yang gagal. Para pedagang kebutuhan pokok dari Sumatera memborong bawang dan cabai di Jawa, kata Menteri Perdagangan. Panen di Sumatera banyak yang gagal. Akibatnya, penduduk di pulau Jawa, khususnya Jakarta, kekurangan pasokan cabe dan bawang. Maka, wajar kalau harga pun membubung. Begitu simplisistis pemikiran menteri kita! Lucunya lagi, kenaikan harga kebutuhan pokok dikatakan juga menguntungkan para petani. Padahal, menurut laporan media berdasarkan wawancara mereka dengan para petani, petani tidak menanngguk keuntungan dari kenaikan harga. Yang menikmati keuntungan maksimal tetap tengkulak dan pedagang besar.
Sebetulnya, apa sebab harga-harga kebutuhan pokok ramai-ramai naik? Tentu, banyak faktor penyebab. Bahwa cuaca yang tidak menentu ikut mempengaruhi harga, ya, tidak bisa dipungkiri. Namun, kalau dikatakan cuaca merupakan faktor satu-satunya atau yang paling menentukan, bohong!

Yang betul, menurut hemat kita, pemerintah gagal melakukan antisipasi. Mestinya, para menteri terkait sudah bisa memprediksi kenaikan harga ketika pemerintah berencana menaikkan TDL. Pengalaman puluhan tahun menunjukkan bahwa setiap kali pemerintah hendak menaikkan harga BBM atau TDL atau kenaikan gaji PNS, harga kebutuhan pokok jauh sebelumnya pasti bergerak naik. Pasti! Makin panjang tenggang waktu antara wacana dan kenaikan harga BBM/TDL yang sebenarnya, makin tinggi pula kenaikan harga kebutuhan pokok. Dengan antisipasi, mestinya Departemen Perdagangan jauh hari telah melakukan operasi pasar. Banjiri pasar-pasar induk dengan produk pertanian “favorit” masyarakat Indonesia seperti beras, cabe, bawang merah, telor dan daging. Shock therapy operasi pasar pasti akan mengerem kecenderungan kenaikan harga, sekaligus mencekik perilaku para tengkulak.

Tentu, untuk itu pemerintah harus mangalokasikan dana yang lumayan besar. Apakah pemerintah tidak punya dana? Pasti punya. Bukankah di APBN selalu sudah dialokasikan dana triliunan rupiah yang disebut cushion alias “bantal”, yang sewaktu-waktu dibutuhkan bisa segera dicairkan?

perikananTak Mau Berpikir
Masalahnya, pemerintah kita memang kurang jeli, tidak mau berpikir keras. Pejabat pemerintah, sebagian, mungkin terlalu obsesif dengan masalah-masalah politik seperti Dana Aspirasi yang menyesatkan itu. Habis waktu, energi dan pikiran mereka dituangkan untuk membahas soal Dana Aspirasi. Akibatnya, urusan perut rakyat banyak, rakyat jelata, terlupakan. Harga-harga kebutuhan pokok dengan liar membubung tinggi.

Cabai rawit misalnya, mengalami kenaikan 100%, dari Rp 25.000 per kg hingga Rp 50.000 per kg dalam kurun waktu dua bulan. Cabe merah, bawang merah naik sampai 30%. Daging idem ditto. Belum lagi kalau kita bicara kebutuhan yang lebih tinggi “derajatnya” seperti susu dan daging ayam. Jangan lupa, kenaikan harga sudah terjadi sejak dua bulan yang lalu, sehingga semakin menekan daya beli masyarakat yang sudah lemah.

Maka, apa yang dilakukan oleh UKP4, menurut saya, terbilang lunak. Hanya 3 menteri yang diberikan rapor merah. Mestinya, minimal 10 menteri yang harus diberikan nilai merah. Dari media massa juga kita mengetahui, misanya, impor ikan di Indonesia terus melonjak. Edan! Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia. Negara kita “banjir” ikan, segala jenis ikan. You just name it! Pergilah ke Maluku, Papua, Palembang, Pontianak, Makassar, Manado, Tegal, Bali, dan masih banyak lagi, di sana ikan melimpah. Kok kita impor ikan? Di mana kinerja Departemen Perdagangan?

Ikan Indonesia, bukan rahasia, sebagian besar, dirampok oleh “nelayan-nelayan” asing; atau kapal-kapal ikan besar Tiongkok yang beroperasi sedikit di luar ZEE. Departemen Kelautan dan Perikanan tidak pernah berdaya menghadapi kapal-kapal asing yang menguras isi perut laut kita. Sama halnya dengan Departemen Kehutanan yang tidak pernah mampu membabat pencoleng hutan yang adakalanya mencuri kayu di siang hari bolong. Hutan sudah gundul pun masih pura-pura tidak tahu. Memalukan sekali kinerja menteri-menteri kita!

Banyak pembaca yang tidak tahu bahwa jagung pun kita impor; padahal jagung termasuk makanan rakyat awam. Lucunya, lagi, jagung antara lain diimpor dari Argentina, negara yang begitu jauh dari Indonesia. Kita tidak habis mengerti, apa sebab semakin banyak petani menutup ladang jagung mereka. Alasannya, tanam jagung semakin tidak menguntungkan. Kenapa Menteri Pertanian tidak melindungi para petani jagung dengan memberikan insentif, misalnya? Kenapa harus menghamburkan devisa hanya untuk impor jagung? Bawang merah juga kita impor, kata Mari Pangestu, dengan alasan untuk menutup kekurangan produksi bawang merah dalam negeri karena gangguan cuaca sehingga di berbagai daerah terjadi panen gagal.

ledakan tabung gasBegitulah kebiasaan pemerintah menyelesaikan permasalahan: selalu ad hoc, selalu reaktif, tidak pernah konseptual. Sampai sekarang entah sudah berapa puluh manusia mati gara-gara tabung gas elpiji meledak. Ledakan tabung gas elpiji seolah sahut-menyahut dari ujung barat sampai ujung timur.

Dan sampai sekarang tidak ada satu pun instansi pemerintah yang mau bertanggung jawab. Semua mencari kambing-hitam. Kalau demikian, ya, Presiden sebagai kepala pemerintah harus bertanggung jawab. Bukankah rakyat tempo hari dipaksa pemerintah untuk menukar kompor minyak tanah dengan kompor gas, dengan pertimbangan utama untuk menghemat devisa dan menjaga lingkungan hidup (kompor minyak tanah menimbulkan polusi udara)? Tapi, setelah dilaksanakan setahun dengan sekian banyak ledakan, setelah pihak BPPT menemukan cacat teknis terhadap tabung dan selang gas elpiji itu, kenapa pemerintah tidak mau secara ksatria mengambil-alih tanggung jawab?

Kalau peristiwa ini terjadi di Jepang, atau Thailand, atau Korea Selatan, pejabat yang bersangkutan pasti sudah mundur, seraya meminta maaf kepada rakyat. Di Indonesia, katanya, tidak ada budaya mundur. Yang betul, tidak ada budaya malu. Para petinggi pemerintah kita tetap saja tega melihat rakyat jelata mati atau luka parah, dan rumahnya hancur akibat ledakan tabung gas yang tempo hari dipaksakan kepada mereka untuk memakainya!

19 Juli 2010
————————————-

Tjipta Lesmana Penulis adalah mantan anggota Komisi Konstitusi, MPR. Guru Besar di Universitas Pelita Harapan.

(Sumber suarapembaruan.com, Foto beritajakarta.com, vivanews.com, google.com)

Artikel Terkait:
1. Daftar Harga-harga Sembako di Jombang
2. Harga Daging Sapi, Ayam dan Telur Naik

About -dN5
Here I am........

3 Responses to Pemerintah, Akuilah!

  1. Winner says:

    Kalau mau dibilang muak ya… Sebenarnya dari dulu rakyat sudah muak dengan kepemimpinan semu elemen pemerintahan yang ada di di Negeri ini.

    Kalau ditanya apa ga malu ya…?? Jawabnya malu itu makanan apa ya…?? Benar kata Mantan Presiden Alm. Gusdur waktu diminta mundur, beliau jawab bagaimana bisa mundur, wong maju saja susah. Memang benar, maju menjadi pejabat di negeri ini susah makanya untuk mundur itu rugi. Susah bukan karena intelektualnya yang kurang memadai, bukan karena ga punya kemampuan.

    Tapi karena uang sebagai pendorong dan pendukungnya yang tidak ada, karena kurang dekat dengan orang-orang yang sudah duduk di singgasana pemerintahan…

  2. Pingback: Berani Meski Tak Benar « Stories From The Road… SFTR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: