Berani Meski Tak Benar

Puisi Saut Poltak Tambunan

Garuda PancasilaSekolahku Sekolah Rakyat biasa di kaki bukit dekat Danau Toba,
di kelas dua kami masih saja belajar membaca dan pelajaran berhitung pun baru sampai di perkalian tiga

Belebas panjang beringas di tangan Encik Guru menyimpan ratusan sidik betis turun temurun sejak zaman Namboruku, membesut anak-anak kampung ke kursi tinggi empuk berlapis beledru

Kata Encik benderaku sang dwi warna merah putih perlambang berani karena benar,
setiap pagi dan siang kami hormat setegak bisa sambil menggegap Indonesia Raya dan Garuda Panca Sila (yang belakangan kutahu tak benar syairnya)*.


Encik guruku sudah tak ada. Masih kuingat pesannya merah putih lambang berani karena benar. Tetapi mengapa benderaku kini kian memerah putihnya? Mengapa di negeriku semakin banyak orang berani meski tak benar?

Jakarta, 24 Jan 2010
——————————————–

** * Ketika itu tak ada buku dan tak pernah melihat teks lagu Garuda Panca Sila yang sebenarnya, hanya meniru-nirukan bunyinya dari kakak kelas:

Garuda Panca Sila,
akulah pendukurmu
Patiroprop lamasi (menurut teman sebangku ‘tapilopot lamasi’)
Setia berkota untukmu

Panca Sila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Dibang dibangsaku
Ayo, maju, maju, ayo, maju, maju!

——————————————–
Saut Poltak Tambunan. Lahir di Balige, kota kecil pinggir Danau Toba, menikah dengan gadis Kawanua – Menado (Lenny Runturambi). Mungkin tidak laku untuk gadis Batak karena tidak bisa main gitar dan tidak suka catur. Punya anak 3 (1-2 perempuan, alumni di PR London School dan alumni FH Unpad, yang ke-3 laki-laki masih tahun I di FIKOM UNPAD).

Sering menulis cerita pendek, novel, skenario, puisi, kolom, artikel. Mantan PNS, tahun 1981 mendirikan Yayasan Pengarang Indonesia AKSARA di Jakarta dan menjabat sebagai Ketua I dan sekaligus menjadi Ketua Yayasan Pengarang AKSARA hingga sekarang. (Oktober 2009 mendirikan Komunitas KedailalangKedai Sastra Ide Kalimalang bersama Kurnia Effendi (KEF) dan teman-teman. Aktif menyelenggarakan workshop penulisan cerpen/novel dengan bukunya ’Kiat Sukses Menulis Novel’.

Saut menyelesaikan/menerbitkan puluhan novel, ratusan cerita pendek/artikel dan skenario film/sinetron. Beberapa novelnya menjadi bestseller pada dekade tahun 80-an, diangkat ke layar lebar dan belakangan menjadi sinetron. Antara lain, Hatiku Bukan Pualam (layar lebar), Jangan Ada Dusta (sinetron), Dia Ingin Anaknya Mati (Sinetron Mini Seri), Harga Diri (layar lebar) , Yang Perkasa (layar lebar), Jalur Bali (layar lebar). Beberapa novel masih dalam penulisan skenario untuk sinetron, yaitu Harga Diri, Kembalikan Anakku, Lia Nathalia, Permata Hati.
Termasuk 3 kumpulan cerpen Rinai Cinta Seorang Sahabat (1985), Lanteung (2004), Jangan Pergi, Jonggi (2005). Kumpulan cerpen ke-4 ’Tortor Orang Batak’ sedang dalam proses.

Sambil menjadi PNS ketika di Jakarta, sempat nyambi menjadi wartawan, editor dan penulis kolom ‘perilaku konsumen’ pada majalah Kartini termasuk ’penjaga gawang’ Departemen Buku Kartini. Juga sempat menjadi dosen pada Akademi Sekretaris Managemen Indonesia (ASMI) dan Akademi Maritim Indonesia (AMI) di Jakarta. Tahun 2008 menjadi co-writer dan editor untuk buku marketing management berjudul Launching.

(Sumber oase.kompas.com, 19 Maret 2010, Foto google.com, flickr)

About -dN5
Here I am........

2 Responses to Berani Meski Tak Benar

  1. bam's says:

    kelihatannya begitu yaa…… bukankah gejalanya mengarah kesana….!!

  2. nez says:

    ih… ga boleh dong, kLo salah y salah aj……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: