2011, Resolusi di awal tahun…

Bandara SoettaAku masih duduk termangu-mangu sendiri di sebuah bangku kayu panjang di Bandara Soetta, melihat lalu lalang penumpang maupun penjemput. Semua terlihat sibuk dengan jalan pikiran masing-masing. Bandara ini selalu sibuk, seolah ia tak pernah merasakan letih, terus bergerak, entah kapan ia istirahat… Tampak pasangan muda saling bergandengan tangan sambil menjinjing koper kecilnya, begitu mesra .. Sorot mata si remaja begitu indah tak lekang matanya memandang pujaan hatinya, entah nanti bagaimana kelanjutannya… Biarkan cinta mereka menemukan jalannya… Seorang ibu di kejauhan repot mengurusi anaknya sekitar 5 tahunan yang tampak sulit diurus, dijewer, tapi tetap meronta-ronta ingin berlarian di ruang lobby bandara.

Ingin segera pulang, ini sudah menjelang malam, tetapi badanku terasa letih setelah menumpang pesawat milik maskapai pemerintah, masih terbuai nikmatnya kursi di dalam pesawat, kerlingan sudut mata pramugari nan ayu itu masih membekas… Liburan ini begitu memanjakan, menikmati malam Natal bersama ibunda yang semakin tua dan tampak ringkih…

Setelah antri menunggu pengambilan bagasi, barang bawaanku agak banyak.. Perhatianku bukan bagaimana nanti menenteng barang bawaan ini, tetapi kepada keramaian di sekitarku.

Begitu ramai, tetapi begitu sepi. Mengapa selalu ada perasaan terasing di tengah keramaian ini? Yang kutahu, aku sudah di Jakarta lagi, hari-hari esok kembali menyaksikan kemacetan itu lagi, keriuhannya, suara klakson mobil dan motor, ibu kota yang menjadi tumpuan penduduknya…


Bukankah setiap memulai tahun baru di awal tahun selayaknya tubuh menjadi segar kembali? Aku menerima banyak ucapan selamat dari segala penjuru, sejuta ucapan, banyak, semua deh… Mengapa selalu sama, setiap tahun? Sebagaimana hari besar keagamaan lainnya, semoga ini dan semoga itu, supaya hidup penuh kebahagiaan, dan seterusnya.. Apakah perlu menyusun niatan di awal tahun ini? Apa resolusinya, mau ini dan itu, pasti deh yang baik-baik niatnya…

Keramaian itu juga menciptakan perasaan keterasingan, kesendirian di tengah keramaian.

Kehidupan modern tampak begitu hampa. Seperti ditulis Bre Redana di harian Kompas Minggu, romantisisme yang mendasari benak imajinasi artistik sepanjang abad lalu, menerima ketiadaan itu sampai titik nadirnya. Apakah menerima begitu saja? Tenggelam didalamnya atau melawan arus dan menjadi maverick? Tahun-tahun telah berlalu, selalu di awalnya bernazar kebaikan, kehidupan tidak hitam putih… Tak selalu ada yang baik-baik saja disana…

Aku masih saja duduk di bangku kayu panjang itu. Masih belum beranjak.

Niatan baik di awal tahun tentang rencana-rencana indah sah saja bukan? Keramaian kadang membingungkan yang bisa menghantarkan kita terperosok pada kenihiLan, dapatkah dibayangkan bagaimana bila itu pada kehidupan kini, kebudayaan visual, jejaring sosial yang menciptakan komunikasi dalam berbagai wajah? Lihatlah pesan komentar, status updates wall di situs jejaring sosial facebook atau twitter yang begitu bertubi-tubi? Komunikasi dengan banyak wajah. Tak jelas mana mimpi mana kenyataan.

Central Park, NY

Central Park, NY

Keterasingan yang mencekam. Manusia lalu lalang, dengan kesibukannya masing-masing, mau kemana mereka? Tak ada yang perduli. Redana juga mengulas tentang novel laris JD Salinger yang sering menjadi panduan para solitaire – penyendiri, “The Catcher in the Rye” menyampaikan sebuah pertanyaan tentang sang tokoh dalam novelnya, Holden Caulfield, remaja udik yang tiba di kota besar, tampak naif saat tiba di kota New York yang begitu mempesonanya, kesibukan kota itu, keramaian dan sikap acuh tak acuh penduduknya.

Ia bertanya-tanya kepada siapa saja yang ditemuinya, ia tampak heran saat melihat di tengah-tengah kota ada hutan rimbun dengan danau besar ditengahnya serta angsa-angsa cantik berenang, Central Park. Ia bertanya-tanya dalam hatinya, bila musim dingin tiba dan danau membeku, pada kemana nanti angsa-angsa itu pergi? Apakah tak ada yang tahu, seolah seperti tak ada lagi yang penting di dunia ini. Disinilah makna paling ‘filosofis’ penghuni kota besar: mau si angsa terbang kemana kek, dibawa orang kek, digoreng di restoran, tak ada yang memusingkannya.

Lihatlah dari atas gedung pencakar langit Jakarta ke bawah, jutaan orang bagaikan merayap melintasi jalanan, mau kemana mereka? Siapa yang perduli? Kamu kah?

Manusia tiba pada keniscayaan modernisme yang memberi dampak keterasingan. Teralienasi, seperti kata Sartre sang pengembang eksistensialisme dalam karyanya, Huis-clos, “L’enfer, c’est les autres…” – “Siapa sih orang lain itu? Neraka?” Lihatlah kemudian bagaimana impian masyarakat yang mendadak bangkit rasa kebangsaannya, saat Timnas Garuda tampil di Piala AFF 2010 lalu, walau tak juara, rasa nasionalisme. Letih melihat keseharian yang tak memberi tempat untuk gebyar-gebyar, mimpi yang memberi harapan, janji yang menghibur. Saat kehabisan rasa bangga melihat negeri yang tak kunjung memberi rasa lega. Kecuali acara reality show televisi, tontonan kehidupan, ironi orang dari pinggir jalan bisa seketika menjadi bintang, hidup penuh mimpi, berubah seketika. Sewaktu-waktu terpental kembali ke jalanan dan lupalah masyarakat.

Resolusi di awal tahun, perlukah? Tak perlu atau pura-pura tak mau tahu? Mimpi perlu barangkali, paling tidak untuk menyenang-nyenangkan diri, bahkan dari dunia yang sering tak bisa dipahami. Saat kepercayaan pada pada negeri luntur, melihat seorang tersangka kasus korupsi bisa seenaknya melenggang ke luar negeri, seolah-olah negeri ini miliknya sendiri. Ketika mereka lupa keseharian itu rupanya pahit, tak ada yang bicara kenapa harga cabe semakin melambung. Ketika negeri yang dipijak, dipuja, dicintai sepenuh hati tak lagi memberi exit yang menjanjikan.

Aku masih saja duduk di bangku panjang itu………

Jakarta, awal tahun 2011
—————————————————————

(Berbagai sumber, Kompas Cetak, Foto google.com)

About -dN5
Here I am........

2 Responses to 2011, Resolusi di awal tahun…

  1. trix says:

    Artikel keren! Semangat yaa….🙂

  2. nez says:

    keterasingan itu seperti kita berada di sebuah pulau? hihihi……
    but i like this!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: