Burma or Myanmar?

By Nicholas Kristof

–> from the his facebook Pages

With Burma changing and Obama there today,
I’m reminded of the times I’ve written
that economic sanctions on Burma were a mistake,
harming ordinary Burmese but not likely
to change government policy.

In retrospect, I was just wrong.
And hats of to the great Aung San Suu Kyi
for her courage and leadership.

November 18, 2012
——————————-

Nicholas Kristof. A journalist.

Advertisements

The Last Moment with Marco Simoncelli

By Agung Kurniawan

The moment with Marco SimoncelliI got shattered hearing for the first time that Marco Simoncelli passed away yesterday. I had never imagined that my first experience of meeting the curly man born in Cattolica, Italy, at Pan Pacific hotel in Kuala Lumpur last Tuesday would be the last one.

The encounter took place as I was having a test drive instead of covering MotoGP World Championship. At the ocassion, Italian motorcyclist born on Jan. 28, 1987, took a preparation to join the championship at Sepang international circuit.

Read more of this post

Tsunami, Wooww… Jepang Memang Memukau!

By Pascal S Bin Saju

–> Dari juduL asLi “Ketangguhan Jepang Memukau Dunia

Japan TsunamiKETANGGUHAN Jepang menghadapi tekanan tiga bencana besar sekaligus, yakni gempa bumi, tsunami, dan radiasi nuklir, memukau dunia. Reputasi internasional Jepang sebagai negara kuat mendapat pujian luas. Tak adanya penjarahan menguatkan citra ”bangsa beradab”.

Pemerintah Jepang, Selasa (15/3), terus memacu proses evakuasi dan distribusi bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau sebelumnya. Seluruh kekuatan dan sumber dayanya dikerahkan maksimal ke Jepang timur laut, daerah yang terparah dilanda tsunami.

Evakuasi korban tsunami berjalan seiring dengan evakuasi ribuan warga yang terancam terpapar radiasi nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, utara Tokyo. Prefektur Fukushima juga termasuk salah satu daerah korban gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat lalu.

Televisi, media cetak, radio, dan situs berita online di seluruh dunia telah merilis bencana itu. Hal yang mengagumkan dunia, seluruh kejadian serta momen dramatis dan mendebarkan direkam televisi Jepang detik demi detik, sejak awal gempa, datangnya tsunami, hingga air bah itu ”diam”.

Read more of this post

Tetap Tak Tahu

By Shinta Miranda

resahkita di sini memang tak pernah alami musim semi
seperti di negeri para leluhur yang dikenal dari cerita
kita cuma tahu musim penghujan yang pasti memberi air
sampai banjir dari hulu ke hilir yang kita namakan rezeki

kita pernah bersembahyang pada sebuah meja abu besar
bertingkat tiga berlapis sutera merah dan kuning keemasan
berkumpul dari yang tertua sampai yang termuda di hari sama
menyantap makanan yang hanya dimasak setahun sekali saja

kita tetap lakukan itu meski berpuluh tahun tak lagi sama
ada yang hilang karena telah mengenal agama yang dibaku
oleh sebuah keharusan dan pengakuan supaya hidup di tempat ini
bisa membuat kita jadi pelaku yang sah dan singkirkan kesah resah

Read more of this post

Terima Kasih Itu Menyejukkan

By Budiman Hakim

Catatan: Diambil dari kutipan buku terbarunya, “si Muka Jelek

Cover buku "si Muka Jelek"Seperti biasa pagi itu saya pergi ke kantor dari rumah saya di Cibubur. Di gerbang tol Kampung Rambutan menuju ke jalan tol TB Simatupang, saya berhenti. Tidak seperti biasanya, si penjaga tol menyapa saya. Padahal biasanya, nengok ke kita pun kagak. Umumnya penjaga tol cuma nadahin tangan doang lalu menyambar uang kita tanpa mengucapkan sepatah kata.

Selamat pagi,” katanya dengan suara riang.
Selamat pagi juga,” sahut saya sambil menyerahkan uang Rp 10.000.

Sambil menunggu uang kembalian, saya menatap ke arah penjaga tol itu. Dia seorang laki-laki berkulit gelap, berusia sekitar 50 tahun. Wajahnya sama sekali nggak ganteng tapi tampak berseri-seri dengan senyum kecil gak pernah lepas dari bibirya. Saya suka ngelihat parasnya. Tipe orang yang menikmati hidup dan senantiasa bersyukur dengan apa yang dimilikinya.

Terima kasih banyak, Pak. Hati-hati, ya, mengemudi,” kata Bapak itu lagi seraya menyerahkan uang kembalian ke saya.

Sungguh sejuk perasaan ini. Cara bapak itu mengucapkan terima kasih terdengar begitu tulus keluar dari hatinya. Bukan hapalan yang diperoleh dari training perusahaannya. Saya jadi semangat mengawali hari dengan dibekali keramahan seperti itu.

Read more of this post

Monarki Yogyakarta, kenapa?

–> Dari juduL asLi “Kata Monarki Yang Kontroversial Itu

By Siti Zulaikha

monarki YogyakartaPekan awal di bulan penghujung tahun ini seperti menjadi Pekan Kemarahan. Orang marah-marah secara serentak di mana-mana. Bahkan hampir tak ada ruang yang terbebas dari orang marah. Di jalan, di warung, kafe hingga di kantor-kantor yang dihuni orang-orang terdidik.

Celakanya, sasaran kemarahan mereka tertuju pada satu orang, yakni orang yang telah berani-beraninya menyebut kata “monarki” yang membuat alergi warga Yogya.

Kata monarki meluncur dari penjelasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam pengantar sidang kabinet pada 26 November yang membahas RUUK DIY, presiden memaparkan model tata pemerintahan daerah Yogya yang formulanya tengah dirancang.

SBY menghendaki adanya suatu pranata yang menghadirkan sistem nasional NKRI, keistimewaan DIY yang harus dihormati dan dijunjung tinggi, serta nilai-nilai demokrasi dalam RUU tentang Keistimewaan DIY.

Lalu, kata-kata yang kontroversial itu menyusul.

Nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan konstitusi maupun nilai-nilai demokrasi,” kata Presiden.

Read more of this post

Tsunami Mentawai dan si Alie…

By Indra J. Piliang

–>Dari judul asli, “Mentawai dan Marzuki Alie

Marzuki Alie

Marzuki Alie

Mentawai adalah kabupaten kepulauan paling barat di Republik Indonesia. Kabupaten ini langsung berhadapan dengan laut luas: Samudra Hindia. Selama Indonesia berdiri, Mentawai hanya bagian dari masyarakat yang dianggap memiliki peradaban rendah.

Belakangan, Mentawai dikenal sebagai tujuan wisatawan mancanegara, terutama Australia. Lalu, muncullah gempa bumi sejak beberapa tahun terakhir. Mentawai hadir dalam pembicaraan publik nasional. Namun, tidak komprehensif. Cenderung parsial. Bahkan setelah banyak tim nasional dan internasional datang, Mentawai tetap diingat sebagai daerah rawan gempa. Tidak yang lain.

Yang paling memprihatinkan muncul belakangan. Entah dosa apa masyarakat Mentawai sehingga Ketua DPR bernama Marzuki Alie menyalahkan korban tsunami.

Mentawai itu, kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulaulah,” kata Marzuki (Kompas.com, 27/10/2010). ”Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah. Namanya kita negara di jalur gempa dan tsunami luar biasa. Kalau tinggal di pulau seperti itu, peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa.

Read more of this post