And, England also Singing

By Abun Sanda

The BeatlesOne of the legendary song The Beatles, flowing melodic “Yesterday” at the mall Westfield, London, Thursday, 8 August, 2012 afternoon. The song was sung by thousands of singers and they are paid millions of pounds for The Beatles, did not play very loud voice. But still able to cope with boisterous mall noisy voice.

Known, the mall adjacent to the Olympic Park, London Olympic 2012 main stadium is the hustle and bustle because most athletes, officials and spectators of the Olympic games, there cornucopia. Be the mall that can accommodate 300.000 of visitors, crammed with people around the world.

Mal looks hectic because British citizens are celebrating the success of their team sitting third in the Olympic games, which stood at 22 gold. Gold will still rise as the world’s biggest sporting event will still take several days. When “Yesterday” is heard, some of them seemed to sing along with gusto.

Read more of this post

Advertisements

Cerita – Jodhi Yudono

“Cerita Buat Mirna…”

gadisPada sepotong bambu, lelaki itu menuliskan kata-katanya dengan sebilah pisau yang dipanggang pucuknya. Lalu diletakkannya potongan bambu itu di bawah pohon jati tua, tempat lelaki itu dan kekasihnya biasa bertemu. Inilah Mir, tulisan lelaki itu,

aku mengapung di telagamu
mendung pun gugurkan hujan
angin bertiup menuju tenggara
aku terjebak di gelisah matamu
mabuk aku oleh pesonamu
cintaku tak habis di makan waktu, di makan waktu

Begitulah kata-kata terakhir lelaki itu. Menurut seorang wanita pencari daun jati yang berpapasan dengannya di sebuah simpang jalan setapak, lelaki itu pergi bersama angin, menuju Tenggara.

Semenjak itu, Mir, tiada ada lagi kabar mengenai lelaki itu. Pun ketika gadis cantik yang dikenal orang sebagai kekasihnya menyusul ke arah Tenggara yang berujung di sebuah lautan, tak dijumpainya jejak kaki lelaki itu di sana.

Read more of this post

Ikut “Tour de Sex” Yuk.., Biar Kagetnya Barengan…

By Rudie Sape

Adalah Andi Syukri awalnya yang memberitahu mengenai Mariska Lubis. (Catatan: Lihat salah satu tulisan Mariska Lubis kLik disini…)
Mbakyu yang satu ini, luar biasa gaulnya. Itu menurut saya.

Saya jadi cepat pulang kampung ke kompasiana gara gara Mariska.
Tulisan Mariska di kompasiana banyak dibaca dan dikomentari macam macam ada yang geleng geleng dan ada yang senang minta ampun.

Saya tanya ke Mariska, dulu ikutan KOKI dong.
Eh dia malah tanya, apaantu Koki Om katanya.
Hehe. Memangnya selama ini main kemana saja kok tidak tahu KOKI.

Saya kasih tahu kalau KOKI adalah kolom Kompas yang juga banyak tulis mengenai esek esek antara lain ditulis oleh La Rose dan sekarang sudah tidak ada lagi
O, itu saya mah mainnya cuma di MH, katanya, hehe
Read more of this post

Juru Dakwah…?? Qo Banyak yang Bodoh Ya…!

By Lukas Adi Prasetya

Pengasuh Ponpes Rudlotul Fatihah, Bantul, KH Muhammad Fuad Riyadi (38), gerah melihat semangat Islam disampaikan hanya secara sepotong-potong oleh para juru dakwah Islam. “Juru dakwah banyak yang bodoh. Saya tantang mereka memahami Islam,” kata Kyai Fuad.

dakwahIa melihat bahwa yang disampaikan juru dakwah di masjid, di televisi, dan di mana saja sudah melenceng dari semangat Islam, agama yang seharusnya memberi kesejukan, ketentraman, kedamaian bagi siapa saja, tak hanya umat Islam, tetapi semua orang non-muslim, termasuk mereka yang ateis sekalipun.

Dengan kata lain, jika apa yang dikatakan juru dakwah membuat umat nonmuslim waswas, merasa terancam, dan tak nyaman, maka itu sudah cukup memberikan gambaran bahwa dakwah yang dilontarkan juru dakwah sudah tak lagi Islami. Ini fenomena yang menurut dia sudah mulai muncul sejak tahun 1970-an, dan mulai kencang…

Ia banyak memberi kritik tentang kebiasaan dan perilaku umat Muslim. Misalnya memakai pengeras suara sekeras mungkin sehingga umat non-muslim dan muslim pun sama-sama terganggu, juga rangkaian acara puasa yang kemeriahannya berlebihan.

“Juru dakwah, dai-dai itu, maaf, baru memegang satu ayat, tapi ngomong-nya sejuta ayat. Tak heran, sekarang bermunculan radikalisme, seperti aksi sweeping, fundamentalisme, dan hal tak mengenakkan yang mengatasnamakan agama. Peraturan daerah pun digiring menjadi bernuansa Islam,” paparnya.

Lihat saja, menurutnya, sekarang banyak yang secara eksplisit dan implisit menyuarakan perlunya Indonesia menjadi negara Islam. “Enggak hanya orang nonmuslim yang ketar-ketir dan cemas. Saya juga takut. Apa Islam di Indonesia seperti itu? Islam adalah agama yang menyuarakan kerinduan pada Allah, bukan agama yang bikin orang lain takut, apalagi menyemai benih permusuhan,” katanya.

“Perlu dicatat, saya hapal ‘Malam Kudus’, lagu rohani umat Katolik saat Natal. Liriknya bagus. Lagunya bagus. Saya suka Natal, gereja. Saya suka semangat Natal, damai di bumi damai di hati. Saya berani katakan, lagu ‘Malam Kudus’ itu lagu Islami,” ujar kyai muda ini.

Tentang Puasa, mestinya umat Islam merefleksikan hal itu seperti umat Hindu merayakan Nyepi. “Mestinya Puasa itu ya nuansanya seperti saat Nyepi. Kita merenung, berdiam, bukan malam ramai,” katanya.

Pengotakan agama mesti dihapus. “Saya justru gembira jika saat zikir bersama, ada teman-teman nonmuslim yang ikut datang. Ikut nggabung. Sering mereka datang ke ponpes saya. Seorang Katolik yang pernah datang pas zikir bilang ke saya, kok dia merasa tenang dan nyaman. Tentu ia masih Katolik. Ketika dia pun merasa damai, tenang, itulah juga sejatinya esensi zikir,” ucap dia.

Kyai ini merasa perlu minta maaf kepada semua umat nonmuslim yang pernah tersinggung dengan perlakuan umat Muslim dan perkataan/perbuatan para juru dakwah. “Saya mohon maaf karena mereka melakukan itu. Mohon dimaklumi,” kata Kyai Fuad.

Kyai ini menggelar lukisan bertema “Aura Dsikir” di Bentara Budaya Yogyakarta. Acara berlangsung dari Sabtu (12/9) hingga Kamis (17/9). Proses pembuatan lukisan dilakukan dengan berzikir terlebih dulu.

Lukas Adi Prasetya. Wartawan “Kompas”.

(Sumber: kompas.com)

Bunga Cinta untuk Teroris..

By Gede Prama

Kebesaran TUHANAda yang serupa dalam cara manusia berespons di muka bumi, yakni mencampakkan hal-hal yang menjengkelkan, berebut hal-hal yang menyenangkan.

Jangankan dalam perang dan perceraian, dalam spiritualitas juga serupa. Tuhan dipuja setan dicerca, orang suci dipuji orang jahat dimaki. Hasilnya dicatat rapi oleh sejarah, berbagai guncangan tidak kian menjauh, malah kian dekat dengan kadar yang semakin menakutkan. Bom teroris, nuklir Korea Utara hanya sebagian bukti.

Bahan pertumbuhan

Amerika Serikat dan George W Bush adalah salah satu guru. Kedigdayaan AS mau menghentikan teroris dengan kekerasan. Dalam usaha ini, terang-terangan menyebut segelintir negara sebagai ”poros setan”. Setelah sekian tahun berlalu, tidak saja teroris kian menyeramkan, Afganistan dan Irak menyedihkan, AS pun mengalami penurunan menakutkan.

Ini memberi pelajaran bermakna. Menyelesaikan kekerasan dengan kekerasan, menghentikan kekejaman dengan kekejaman, serupa dengan menambah bensin pada api membara, makin lama makin berkobar.

Bila boleh jujur, setiap putaran waktu selalu ada penggoda. Yesus digoda Judas, istri Rama dilarikan Rahwana, Shri Krishna terpaksa turun perang karena keserakahan Duryodana, Buddha berkali-kali dicoba dibunuh Devadatta. Rangkaian sejarah ini bercerita, mencoba melenyapkan penggoda tidak saja sia-sia, tetapi juga melanggar hukum alam. Lebih dari itu, tidak ada pertumbuhan tanpa godaan.

Pesan seorang papa kepada putranya, ”Semakin tua umurmu, semakin banyak masalah yang datang. Namun, tolong diingat, persoalan muncul tidak untuk menghancurkan, tetapi untuk membuatmu tambah dewasa.”

Semesta memang semakin tua, akibatnya masalah semakin menumpuk. Namun, hanya tangan kebijaksanaan yang bisa mengolah persoalan menjadi berkah pertumbuhan. When sorrow invades the mind, compassion arises. Saat kegelapan kesedihan mengguncang, ia tidak mengundang kegelapan kemarahan, tetapi memunculkan cahaya kasih sayang.

Di salah satu majelis taklim di Jakarta pernah terdengar pesan indah, ”Sahabat-sahabat yang keras dan ganas itu jangan dijauhi. Harus ada yang mendekati, menyayangi, mencintai mereka. Terutama agar mereka keluar dari lingkaran gelap kekerasan”.

Undangan kebijaksanaan itu sungguh menyejukkan, sekaligus memberi masukan, masih banyak tersisa wajah yang sejuk, teduh, dan memayungi.

Seorang kakek mengelus cucu yang sedang marah dan sedih sambil berucap lembut: ”Sesakit apa pun tubuhmu, seberat apa pun beban jiwamu, ingatlah manusia tidak pernah menjadi musuh kita. Musuh sesungguhnya adalah kesalahpahaman.”

Bermesraan

Coba perhatikan para teroris, mereka dibikin oleh sepasang orangtua yang berpelukan dan bermesraan. Didoakan orangtua agar menjadi manusia berguna. Bertumbuh di sekolah yang mengajarkan kebaikan. Berdoa di tempat ibadah yang mendoakan keselamatan. Namun, karena berbagai hal yang tak sepenuhnya dimengerti, mereka diselimuti sejumlah awan kesalahpahaman. Dan awan ini tak menjadi hasil kerja mereka seorang diri.

ketidakadilanKetidakadilan tatanan dunia, pemberitaan yang penuh kekerasan, pemerintah yang tidak sepenuhnya terkelola, sekolah yang menakutkan, keluarga yang mengalami keruntuhan, miskinnya keteladanan tokoh, iklan yang terus menggoda nafsu, hanyalah sebagian jejaring yang menggiring mereka masuk terowongan gelap kesalahpahaman. Mencaci mereka hanya akan mempertebal kesalahpahaman.

Dalam bingkai pemahaman seperti ini, tidak adil bila menempatkan teroris sebagai terdakwa yang hanya layak disalahkan. Menyadari pendidikan, pergaulan, dan pemahaman agama para teroris yang terbatas, mereka lebih layak disebut ”korban” kesalahpahaman dibandingkan menjadi ”penyebab” kesalahpahaman.

Serupa dengan seseorang yang amat marah kepada lalat yang masuk rumahnya, sementara rumahnya penuh kotoran menjijikkan. Sebenarnya dengan semua kekerasan dan kekisruhan yang ditimbulkan, umat manusialah yang mengundang kekerasan teroris. Padahal, bila rumahnya bersih dan wangi, otomatis lalatnya menghilang.

Untuk itulah, setelah kekerasan tak kunjung pergi dengan jalan memaki-maki teroris, mungkin ini saatnya membersihkan rumah keseharian. Meminjam bahasa tetua, orang baik terlihat baik, orang jahat pun terlihat baik, bila kita di dalamnya cukup baik.

Seorang pertapa berkali-kali menggigil menangis saat bom teroris meledak, mendengar suara guru di dalam, ”Bawa orang-orang pulang. Kebencian, kemarahan, apalagi kekejaman bukan rumah sebenarnya. Rumah jiwa adalah cinta dan keikhlasan”. Ini mengingatkan kisah Nabi Nuh. Kendati tempat tinggalnya padang pasir tak berair, ia ikuti suara saat diminta membuat perahu.

Diterangi cahaya spiritual seperti ini, mungkin layak dipertimbangkan mengirim bunga cinta bagi teroris. Bagi pemimpin dan tokoh, hati-hatilah karena menjadi teladan yang ditiru. Bagi para guru (terutama guru agama), ajarkan wajah agama yang indah di awal, di tengah, dan di akhir. Bagi orangtua, sayangi putra-putri di rumah. Bagi sahabat media, wartakan kelembutan. Pengelola televisi, tayangkan gambar-gambar yang bisa membangunkan energi kasih dalam diri manusia. Itulah sebagian contoh mengirim rangkaian bunga cinta untuk mereka yang berpotensi menjadi teroris pada masa depan.

Mengirim bunga cinta kepada pihak-pihak yang berpotensi menyakiti adalah bukti rumah batin sudah bersih sekaligus jernih. Dengan batin seperti inilah kita songsong masa depan yang lebih membahagiakan. Mistikus sufi Jalaludin Rumi menulis, hidup seperti tinggal di losmen, tiap hari ganti tamu. Siapa pun tamunya (senang-sedih, suka-duka), jangan lupa tersenyum.

—————–

Gede Prama. Penulis Buku “Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into The Ultimate Healing”.
Tulisan lain dapat di- kLik disini…

“maafkan ayah, nok”

By Febby Sahla

Maafkan aku TuhanMalam ini…, purnama begitu cantik menghias langit, setelah senja tadi gerimis membasahi…, seolah ingin sedikit memberi kesejukan di tiap hati…
Seperti hari kemarin, selalu ingin ku ketuk pintu Rabb ku dengan seok langkahku… Begitu menjadi pentingkah sebuah pernyataan yg sejatinya hanya antara sesama mahluk Mu… Dan.., aku tak pernah lelah menunggu, mencari, dan mengeja arti pesan di balik kata itu…

Malam pekat, waktu terasa kian mencekat tapi aku tahu suatu hari akan ku dapat, sebuah jawaban tepat dan tak ada keraguan ku dapat.
“Maafkan Ayah, nok”… Ya Rabbi, apa makna kalimat ini? kian hari kian terasa menyesak di hati. Seorang yang begitu berarti dalam hidup, yang menjadi inspirasi dan motivator.., berulang kali ucapkan kalimat itu padaku. Dan hanya harap ikhlas terlontar agar aku tegar, tegar, tegar… dan tegak menapak jalan hidup yang makin tak enak…

mencari TuhanAku tak kan lelah mencari arti kalimat itu meski dengan keterbatasanku… Seperti begitu sayangnya engkau padaku.., aku ingin jiwamu yang telah terpisah ruang dan waktu sesekali datang mengunjungiku… Aku tahu, engkau dulu paling tahu tentang aku, tentang betapa keras kepalanya aku.., bagaimana aku diam saat masalah bertubi-tubi mendera.., dan sedikit tertawaku meski bahagia sedang datang menyelimutiku…

“Maafkan nok, bila mengecewakan mu, Yah,” ahh… seperti masih ada sosokmu disampingku dan begitu terngiang ucapan saat kau genggam tanganku dalam kelemahanmu, “…karena gw gak cuma bapak loe, tapi gw sahabat, gw kawan… gw tau bagaimana loe betul2 sembunyiin rahasia hati loe dari gw, nok.” Duh Gusti Allah… hamba mohon ampun…

Febby Sahla. Tinggal di Semarang.

Harta TERBESAR

By Anak Bangsa Dari Timur

harta kekayaanSeringkali orang mengidentikkan harta terbesar itu mempunyai kekayaan yang banyak. Baik berupa emas, perhiasan, kendaraan, rumah, dan sebagainya. Padahal semua kekayaan tersebut merupakan bagian luar dari harta yang terbesar. Harta yang melimpah tidak menjamin kebahagiaan, keselamatan, kesehatan terhadap diri kita. Juga tidak akan mungkin bisa kita nikmati semuanya sampai habis.

Orang selalu berpikir apa yang ada di luar diri kita, yang terlihat dan terasa oleh indera kita, itulah harta. Kita tidak menyadari bahwa “diri” kita merupakan harta. Dan harta yang terbesar terletak pada “pikiran” kita. Dengan segala yang ada pada diri kita, segala bentuk kekayaan dapat terbentuk.

Manusia yang selalu berpikir, akan leluasa membentuk diri dan lingkungannya. Manusia telah diciptakan dengan sempurna, mengapa kita tidak bisa mengaktualisasikan kesempurnaan tersebut baik untuk diri maupun lingkungan. Jangan hanya menjadi lilin yang mampu menerangi tetapi akan habis. Jadilah cahaya yang tak pernah padam, yang mampu menerangi diri dan orang lain.

Untuk itu, selalu ingatkan diri kita bahwa “Pikiran kita adalah harta terbesar yang memenuhi kesempurnaan manusia…”

(Bukan nama sebenarnya)